Periskop.id - Dari sebungkus mi instan yang Anda santap hingga pasta gigi yang Anda gunakan setiap pagi, minyak sawit hampir mustahil dihindari. 

Melansir data dari Think Landscape, minyak nabati serbaguna ini terkandung dalam lebih dari separuh produk makanan komersial dan perawatan konsumen di supermarket seluruh dunia. 

Namun, di balik kegunaannya yang masif, minyak sawit tetap menjadi komoditas paling kontroversial di abad ini.

Industri ini berdiri di atas persimpangan jalan yang tajam. Di satu sisi, ia menopang mata pencaharian jutaan petani kecil di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. 

Di sisi lain, ekspansi perkebunannya memicu kekhawatiran besar terhadap deforestasi, kerusakan keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim.

Mengapa Dunia Begitu Bergantung pada Minyak Sawit?

Pertumbuhan industri minyak sawit sangat fenomenal. Pada tahun 1961, luas lahan produksi hanya berkisar 3,6 juta hektare, namun angka ini melonjak drastis menjadi hampir 20 juta hektare pada tahun 2021. 

Alasan utamanya adalah efisiensi yang luar biasa. Pohon kelapa sawit adalah tanaman minyak nabati paling produktif di bumi. Untuk menghasilkan jumlah minyak yang sama, kelapa sawit membutuhkan lahan empat hingga sepuluh kali lebih sedikit dibandingkan bunga matahari, kelapa, atau kedelai.

Secara karakteristik, minyak sawit tidak memiliki rasa dan berbentuk semi padat pada suhu ruang, menjadikannya bahan ideal untuk produk olesan seperti margarin. Ketahanannya terhadap pembusukan juga membantu memperpanjang umur simpan makanan olahan. 

Tak heran jika minyak sawit memenuhi 40% permintaan minyak nabati global dan sangat sulit untuk dicarikan penggantinya.

Kekuatan Ekonomi Indonesia dan Malaysia

Indonesia dan Malaysia adalah dua pemain utama yang menguasai pasokan dunia. Indonesia sendiri memproduksi lebih dari 30 juta ton per tahun atau sekitar 60% dari total produksi global, sementara Malaysia menyumbang 25% sisanya.

Menurut konsorsium Sustainable Palm Oil Choice, industri ini mempekerjakan hampir 5 juta petani kecil dan pekerja secara langsung di kedua negara tersebut. 

Jika ditambah dengan sektor pendukung dan industri hilir di negara pengimpor, total ada sekitar 14 juta orang yang menggantungkan hidup pada komoditas ini. Risiko kehilangan mata pencaharian inilah yang membuat upaya transformasi menuju praktik berkelanjutan menjadi sangat mendesak.

Sisi Gelap: Kontroversi Lingkungan dan Sosial

Masalah utama muncul karena pohon kelapa sawit tumbuh subur di iklim tropis, wilayah yang juga merupakan rumah bagi dua pertiga keanekaragaman hayati dunia. 

Pembukaan hutan hujan dan lahan gambut untuk perkebunan melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar dan menghancurkan habitat satwa terancam punah seperti orangutan dan harimau Sumatra.

Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat bahwa produksi minyak sawit menyumbang 7 persen deforestasi global pada periode 2000 hingga 2018. 

Selain isu lingkungan, ekspansi ini sering kali dibarengi dengan pencemaran sumber air, perampasan lahan, hingga isu tenaga kerja paksa.

Kasus di Kalangala, Uganda, menjadi peringatan nyata. Ekspansi besar-besaran kelapa sawit di sana sempat merusak ekosistem Danau Victoria dan mengancam kedaulatan pangan lokal. 

Namun, kini wilayah tersebut mulai pulih melalui penerapan prinsip agroforestri, yaitu sistem yang menyeimbangkan antara tanaman komersial dan produksi pangan berkelanjutan.

Mengenal Proses Produksi

Buah kelapa sawit yang berwarna jingga kemerahan karena kandungan karoten tinggi menghasilkan dua jenis minyak berbeda:

  1. Minyak Sawit (CPO): Diperas langsung dari daging buahnya.
  2. Minyak Inti Sawit (PKO): Diekstraksi dari biji atau inti di dalam buah.

Setelah panen, buah disterilkan untuk menghentikan kerja enzim yang memicu pembusukan, kemudian diperas untuk mendapatkan minyak mentah. Produksi global saat ini mencapai 77,6 juta ton dan menurut WWF, angka ini diprediksi bisa melonjak hingga 447 juta ton pada 2050.

Menuju Solusi: Sertifikasi dan Regulasi Ketat

Menanggapi berbagai kritik, industri ini mengembangkan program sertifikasi internasional, salah satunya adalah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). 

Hingga tahun 2025, RSPO telah menetapkan standar berkelanjutan untuk 5,1 juta hektare perkebunan di 24 negara. Fokus utamanya adalah memastikan produksi tanpa deforestasi, tanpa eksploitasi pekerja, dan menjaga transparansi rantai pasok.

Saat ini, sekitar 86% minyak sawit yang masuk ke pasar Eropa sudah tersertifikasi RSPO. Tekanan global juga semakin kuat dengan hadirnya European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang dijadwalkan berlaku mulai Juni 2027. 

Regulasi ini akan mewajibkan setiap produk minyak sawit yang dijual di Uni Eropa terbukti tidak menyebabkan deforestasi dan mematuhi aturan nasional negara produsen.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa meskipun tantangannya besar, industri minyak sawit memiliki jalur untuk menjadi lebih hijau. Kuncinya terletak pada kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan kesadaran konsumen untuk memilih produk yang bersertifikat berkelanjutan.