Periskop.id - Tak seorang pun ingin diselingkuhi karena ketakutan akan perselingkuhan sering kali membuat kita panik dan mencari jawaban mengenai siapa yang melakukannya, mengapa mereka melakukannya, dan bagaimana mencegahnya agar kita tak perlu menghadapi rasa sakit semacam itu dalam hubungan. 

Melansir Psychology Today, dalam upaya mencari jawaban dan melindungi diri, kita sering mencari pola yang bisa memberi tahu tipe orang seperti apa yang paling mungkin selingkuh dari kita. Namun ketika pola-pola ini berubah menjadi generalisasi yang belum terbukti, hal itu bisa berbahaya.

Fenomena ini sering kali memunculkan stigma negatif terhadap profesi tertentu. Pada 2018, Ashley Madison, layanan kencan kontroversial bagi mereka yang sudah menikah atau sedang menjalin hubungan, menanyakan kepada lebih dari 1.000 penggunanya tentang pekerjaan mereka. 

Di antara perempuan yang menggunakan situs tersebut untuk mencari hubungan di luar nikah, profesi yang paling umum dilaporkan adalah bidang medis, dengan 23% pengguna bekerja sebagai dokter atau perawat. 

Lima persen pengguna laki-laki juga bekerja di bidang medis. Isabella Mise, direktur komunikasi Madison, menyatakan bahwa kombinasi jam kerja panjang yang berpotensi menimbulkan stres, ditambah reaksi alami terhadap stres, mungkin menjadi alasan perempuan di profesi medis mencari perselingkuhan.

Kerentanan Tenaga Kesehatan dan Tekanan Pekerjaan

Pada 2025, layanan kencan di luar nikah lain dari Inggris bernama Illicit Encounters tampaknya menguatkan temuan ini dengan melaporkan bahwa perawat merupakan proporsi terbesar pengguna perempuan di situs mereka. 

Banyak pihak mempertanyakan kebenaran dan bobot klaim tersebut mengingat laporan ini didasarkan pada pengguna yang secara sukarela memakai situs untuk berselingkuh dan tidak mewakili seluruh industri tenaga kesehatan (nakes). 

Untuk menghindari kesalahpahaman dan stereotip, penting bagi publik untuk melihat bukti secara objektif mengenai apakah kelompok tenaga kesehatan memang lebih rentan selingkuh.

Para nakes sering kali harus menghadapi jam kerja panjang dan tidak menentu, situasi bertekanan tinggi, serta beban emosional dari pekerjaan mereka yang dapat menyebabkan kesedihan, kelelahan, kecemasan, hingga burnout mental dan fisik yang parah. 

Sebuah studi tahun 2017 yang dipublikasikan di Journal of Clinical Nursing menilai tingkat burnout pada tenaga kesehatan di panti jompo Prancis dan menemukan bahwa 40% peserta mengalami burnout sebagai caregiver. Sering kali, kecenderungan untuk berselingkuh dikaitkan dengan sifat pekerjaan yang penuh tekanan seperti ini.

Fakta Riset Terhadap Dokter dan Perawat

Dalam studi tahun 2021 terhadap lebih dari 360 dokter dan perawat yang dipublikasikan di International Journal of Environmental Research and Public Health, peneliti menemukan bahwa 21% peserta sedang atau pernah berada dalam hubungan yang tidak setia, dan lebih dari 80% dari individu tersebut adalah dokter. 

Menariknya, bertolak belakang dengan stereotip perawat perempuan tukang selingkuh, peneliti menemukan bahwa laki-laki dalam studi tersebut hampir lima kali lebih mungkin berselingkuh dibanding perempuan. Laki-laki juga lebih mungkin melakukan hubungan seksual di ruang dokter saat sedang bertugas.

Jam kerja juga tampaknya berperan dalam pola ini di mana orang yang bekerja pada jadwal darurat malam hampir 18 kali lebih mungkin tidak setia kepada pasangan dibanding mereka yang bekerja paruh waktu. 

Para peserta menyalahkan tuntutan pekerjaan mereka, termasuk harus jauh dari rumah selama berjam-jam dan kebutuhan untuk melampiaskan stres. Mereka juga mengakui bahwa karena pekerjaannya sebagai nakes, lebih mudah bagi mereka untuk membenarkan ketidakhadiran di rumah dan kemungkinan lebih mudah menutupi perselingkuhan. 

Namun, penting untuk diingat bahwa korelasi bukan berarti sebab akibat. Meski pekerjaan mereka mungkin menciptakan kondisi yang menguji mereka, keputusan untuk tidak setia tetap sangat personal. 

Apakah profesi seperti tenaga kesehatan dapat menciptakan kondisi yang mempermudah perselingkuhan? Tentu. Apakah menjadi bagian dari profesi itu secara langsung dan tak terhindarkan menyebabkan perselingkuhan? Tentu tidak.

Alasan Sebenarnya di Balik Perselingkuhan

Alasan paling menonjol mengapa orang berselingkuh jauh lebih berkaitan dengan diri mereka sendiri daripada profesi mereka sebagai tenaga kesehatan. 

Pertama adalah faktor ketidakbahagiaan dalam hubungan. Sebuah studi tahun 2017 yang dipublikasikan di The Journal of Sex Research menemukan bahwa selain merasa tidak puas atau diabaikan dalam hubungan utama, individu sering melaporkan berselingkuh karena sudah tidak cinta lagi atau memiliki tingkat komitmen yang rendah terhadap pasangan. 

Perselingkuhan sering kali terjadi karena mereka tidak mampu mengatasi dan mengomunikasikan perasaan tersebut secara efektif atau mengakhiri hubungan, sehingga hubungan lain digunakan untuk menghindari percakapan yang rentan dan tidak nyaman.

Faktor kedua adalah ketidakbahagiaan dengan diri sendiri di mana studi tahun 2017 tersebut juga menunjukkan bahwa mereka yang memiliki harga diri rendah atau takut ditolak mungkin mencari hubungan lain untuk meningkatkan rasa percaya diri atau popularitas di mata orang lain. 

Perselingkuhan juga bisa menjadi bentuk sabotase diri ketika seseorang merasa dirinya tidak pantas dicintai sehingga mereka justru menjauhkannya. Ketiga adalah adanya sifat kepribadian gelap. 

Riset yang dipublikasikan di Journal of Sex and Marital Therapy menemukan bahwa individu yang menunjukkan narsisme seksual cenderung menggunakan seks untuk meningkatkan ego mereka, menunjukkan kurangnya empati dan kepedulian terhadap pasangan yang akhirnya mendorong mereka pada perselingkuhan tanpa memikirkan konsekuensinya.

Terlepas dari konteksnya, perselingkuhan pada akhirnya tampak sebagai hasil dari konflik batin yang mendalam dan bukan sekadar godaan eksternal. 

Daripada fokus pada pekerjaan seseorang yang berselingkuh, mungkin sudah saatnya kita memperhatikan bahwa mereka belum tentu melakukan pekerjaan batin untuk menghadirkan komunikasi terbuka, kerentanan, dan kejujuran dalam hubungan mereka.