Periskop.id - Sosok Grace Natalie Louisa kembali menjadi pusat perhatian publik di tengah aktivitas profesional dan organisasinya. Saat ini, Grace Natalie menjabat sebagai Komisaris Independen di MIND ID, sebuah perusahaan induk industri pertambangan di Indonesia. 

Berdasarkan informasi resmi perusahaan, ia memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, dimulai dari gelar Sarjana Akuntansi dari Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie (IBII).

Pendidikan formalnya kemudian berlanjut di Singapura dengan meraih gelar Master of Public Administration dari National University of Singapore pada tahun 2021. 

Tidak berhenti di situ, ia juga memperoleh gelar Master of Business Administration dari Singapore Management University pada tahun 2023. 

Sebelum memasuki sektor korporasi dan politik, Grace mengawali karier profesionalnya sebagai jurnalis di berbagai stasiun televisi swasta serta pernah menduduki posisi sebagai CEO Saiful Mujani Research.

Dalam dunia politik, peran Grace Natalie sangat signifikan sebagai pendiri Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pada pemilu perdana partai tersebut, ia berhasil membawa PSI meraih sekitar 3 juta suara nasional saat masih menjabat sebagai Ketua Umum. 

Kini, posisi Ketua Umum PSI telah dipegang oleh Kaesang Pangarep, sementara Grace mengemban amanah sebagai Wakil Dewan Pembina PSI.

Kontroversi Tanggapan Terhadap Ceramah Jusuf Kalla

Belakangan ini, nama Grace mencuat bukan karena urusan pertambangan, melainkan akibat responsnya terhadap potongan video ceramah mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK). 

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada April 2026, Grace melontarkan kritik keras terkait pernyataan JK saat mengisi ceramah di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Maret 2026.

Fokus keberatan Grace tertuju pada narasi mengenai konsep "syahid" yang menurutnya telah didistorsi. 

"Menurut Pak Jusuf Kalla, baik di Kristen maupun Islam sama-sama berpendapat bahwa mati dan mematikan orang adalah syahid. Ini adalah pernyataan yang sangat fatal apalagi diucapkan oleh seorang tokoh nasional senior," tegas Grace dalam rekaman videonya. 

Ia menilai bahwa menyamakan ajaran kasih dalam kekristenan dengan narasi kekerasan adalah kesalahan besar yang berisiko memicu polarisasi di masyarakat. Grace pun menuntut agar JK segera memberikan klarifikasi serta meminta maaf kepada publik.

Dampak Hukum dan Pelaporan ke Bareskrim

Langkah kritis yang diambil oleh Grace Natalie ini rupanya berbuntut panjang hingga ke ranah hukum. 

Aliansi Ormas Islam Menjaga Kerukunan Umat, yang merupakan gabungan dari 40 organisasi, menilai tindakan Grace bersama beberapa tokoh lain seperti Ade Armando dan Abu Janda sebagai bentuk penghasutan melalui media elektronik.

Laporan terhadap Grace telah secara resmi terdaftar di Bareskrim Polri dengan nomor registrasi LP/B/185/V/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI. 

Kasus ini menambah daftar panjang dinamika hubungan antara tokoh politik muda dengan para politisi senior di Indonesia, sekaligus menjadi ujian bagi penegakan hukum terkait kebebasan berpendapat dan kerukunan umat beragama.