Periskop.id - Tren penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja di DKI Jakarta menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang 2025. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta mencatat, lonjakan jumlah remaja yang menjalani rehabilitasi, menandakan ancaman serius di lingkungan pelajar.

"Korban penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja di Jakarta tahun 2025 terjadi peningkatan 24,21% dibandingkan 2024 lalu," kata Kepala BNNP DKI Jakarta Brigjen Pol Awang Joko Rumitro.

Data BNNP menunjukkan, jumlah klien rehabilitasi meningkat dari 6.718 orang pada 2024 menjadi 8.865 orang pada 2025. Dari jumlah tersebut, terdapat kelompok usia anak yang turut terdampak, meski persentasenya masih relatif kecil.

Sementara itu, hingga 2026 tercatat 1.760 klien yang menjalani rehabilitasi, mencakup berbagai kelompok usia mulai dari remaja hingga dewasa. "Untuk 2026, total semua klien 1.760, yang terdiri dari wanita, laki-laki dan anak-anak dengan rentang usia 13 hingga di atas 18 tahun," papar Awang.

Ratusan Siswa Terpapar
Hasil skrining yang dilakukan BNNP terhadap 19.381 orang juga mengungkap fakta mengkhawatirkan. Sebanyak 156 siswa atau sekitar 0,80% terindikasi terpapar narkotika pada 2025.

Temuan ini menjadi perhatian serius mengingat jumlah sekolah tingkat menengah di Jakarta mencapai 1.171 unit, yang terdiri dari SMA, SMK, dan madrasah aliyah.

Secara nasional, Badan Narkotika Nasional (BNN) sebelumnya juga mengungkap prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia berada di kisaran 1,95 % dari total populasi (BNN RI, 2023), dengan kelompok usia produktif dan remaja menjadi salah satu yang paling rentan.

Program Sekolah 
Untuk menekan tren tersebut, BNNP DKI Jakarta memperkuat pendekatan berbasis sekolah melalui program Ananda Bersinar (Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkotika). Dalam program ini, ribuan pelajar dan tenaga pendidik dilibatkan sebagai agen pencegahan di lingkungan sekolah.

“Dengan kolaborasi dan kepedulian bersama, kami berharap para remaja dapat menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang sehat, positif, dan bebas dari penyalahgunaan narkoba,” tutur Awang.

Sebanyak 3.717 peserta telah dilantik dalam program ini, terdiri dari 2.899 siswa dan ratusan guru dari berbagai sekolah di Jakarta. Mereka sebelumnya mengikuti pelatihan khusus yang difokuskan pada edukasi, deteksi dini, hingga pendampingan sebaya.

Para peserta diharapkan dapat berperan sebagai peer educator, memberikan edukasi kepada teman sebaya, serta menjadi bagian dari satuan tugas anti-narkoba di sekolah masing-masing.

Peningkatan kasus di kalangan remaja menunjukkan, pendekatan represif saja tidak cukup. Edukasi, pengawasan lingkungan, serta keterlibatan keluarga dan sekolah menjadi faktor kunci dalam pencegahan.

BNNP juga menilai pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, institusi pendidikan, hingga masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi generasi muda. Dengan tren yang terus meningkat, upaya preventif berbasis komunitas dan sekolah diharapkan dapat menjadi benteng utama dalam menekan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja Jakarta.