periskop.id - Istilah homeless media belakangan ramai diperbincangkan publik setelah Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI resmi menggandeng sejumlah akun media digital populer sebagai mitra strategis pemerintah.

Langkah ini langsung memicu diskusi luas di media sosial, terutama karena istilah homeless media sebelumnya lebih sering digunakan di kalangan industri digital dan kreator konten dibanding masyarakat umum.

Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana pola konsumsi informasi masyarakat Indonesia telah berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu publik mengandalkan koran, televisi, atau portal berita berbasis website, kini banyak orang terutama generasi muda yang lebih sering mendapatkan informasi dari Instagram, TikTok, YouTube, hingga X.

Di tengah perubahan besar itu, pemerintah melalui Bakom RI mulai melihat homeless media sebagai kekuatan baru dalam ekosistem komunikasi digital Indonesia.

Apa Itu Homeless Media?

Secara sederhana, homeless media adalah media atau akun informasi digital yang beroperasi penuh di platform media sosial tanpa memiliki “rumah” berupa website atau aplikasi mandiri.

Istilah “homeless” atau “tanpa rumah” muncul karena seluruh distribusi kontennya bergantung pada platform pihak ketiga seperti: Instagram, TikTok, YouTube, X (Twitter) atau Facebook.

Berbeda dengan media online konvensional yang memiliki situs berita resmi, homeless media fokus membangun audiens langsung di media sosial.

Format kontennya juga jauh lebih fleksibel, mulai dari video pendek, meme informatif, carousel, infografis, podcast, hingga live streaming.

Ciri-Ciri Homeless Media

Ada beberapa karakteristik utama yang melekat pada homeless media:

1. Berbasis Penuh di Media Sosial

Homeless media tidak bergantung pada website berita atau aplikasi khusus. Semua distribusi konten dilakukan melalui platform sosial media.

2. Format Konten Lebih Fleksibel

Konten dibuat dalam format yang cepat dikonsumsi seperti reels, video pendek, carousel, meme, dan live streaming.

3. Interaksi dengan Audiens Sangat Tinggi

Media jenis ini biasanya memiliki hubungan yang lebih dekat dengan followers karena komunikasi berlangsung dua arah melalui komentar dan fitur interaktif lainnya.

4. Operasional Lebih Ringan

Dibanding perusahaan media konvensional, biaya produksi homeless media jauh lebih rendah karena tidak memerlukan infrastruktur besar.

5. Distribusi Konten Sangat Cepat

Konten dapat menyebar luas dalam hitungan menit dan menjangkau audiens lintas wilayah secara instan.

Pertumbuhan homeless media di Indonesia meningkat sangat cepat sejak 2021. Salah satu faktor utamanya adalah perubahan perilaku konsumsi media generasi muda.

Apalagi Gen Z kini lebih menyukai konten yang cepat dikonsumsi, visual dan interaktif, fingan namun informatif, mudah dibagikan dan relevan dengan tren media sosial

Kondisi ini membuat banyak akun berbasis media sosial berkembang menjadi sumber informasi alternatif yang memiliki pengaruh besar.

Kenapa Istilah Homeless Media Jadi Viral?

Istilah ini kembali viral setelah Bakom RI mengumumkan pembentukan New Media Forum yang melibatkan sejumlah akun digital populer di Indonesia.

Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk menjangkau generasi muda yang kini lebih aktif mengonsumsi informasi melalui media sosial.

“New Media Forum ini mitra baru dari Bakom dalam ekosistem media digital di Indonesia. Ini sebuah kolaborasi dari beberapa pelaku new media. Jadi dulu namanya dikenal dengan istilah homeless media, tapi teman-teman berusaha bertransformasi menjadi new media," kata Qodari.

Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian publik karena menjadi salah satu pengakuan resmi pemerintah terhadap eksistensi media sosial sebagai kanal komunikasi utama masyarakat modern.

Kenapa Pemerintah Merangkul Homeless Media?

Bakom RI menilai pola komunikasi publik saat ini telah berubah secara signifikan. Generasi milenial dan Gen Z kini lebih sering mendapatkan informasi dari konten media sosial dibanding media arus utama.

Karena itu, pemerintah mulai memperluas strategi komunikasi agar program-program strategis negara dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

"Kehadiran teman-teman new media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya, tidak hanya melalui media konvensional, tapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realitas media," terang Qodari.

Selain itu, akun-akun homeless media dinilai memiliki engagement yang sangat tinggi dibanding media konvensional. Beberapa akun bahkan memiliki puluhan juta pengikut dengan total views mencapai miliaran setiap bulan.

“Dengan realitas bahwa new media sudah punya followers yang cukup besar, mungkin bisa sampai 100 juta dengan views yang bisa mencapai angka miliaran, 4 sampai 5 miliar satu bulan, hemat kami yang terbaik adalah kita bisa engage agar membuat kualitas new media memang semakin meningkat," katanya.

Perbedaan Homeless Media dan Media Konvensional

Homeless MediaMedia Konvensional
Fokus di media sosialMemiliki website dan aplikasi
Konten cepat dan interaktifKonten lebih formal
Operasional lebih kecilMemiliki struktur redaksi besar
Mengandalkan algoritma platformMemiliki traffic mandiri
Target utama Gen Z dan milenialAudiens lebih luas

Banyak pengamat menilai homeless media akan terus berkembang karena pola konsumsi informasi masyarakat sudah berubah permanen.

Namun, tantangan terbesar media jenis ini adalah menjaga kredibilitas, akurasi informasi, dan keberlanjutan bisnis.

Karena sepenuhnya bergantung pada platform pihak ketiga, perubahan algoritma media sosial dapat sangat memengaruhi jangkauan mereka.

Di sisi lain, kolaborasi pemerintah dengan homeless media menunjukkan bahwa keberadaan media digital berbasis sosial media kini mulai diakui sebagai bagian penting dari ekosistem informasi nasional.