Periskop.id - Setengah abad telah berlalu sejak modul lunar Apollo 17 milik NASA lepas landas dari sisi timur laut Bulan, namun hingga kini, para ilmuwan planet masih terus bergulat dengan teka-teki besar mengenai kapan dan bagaimana sebenarnya Bulan terbentuk.
Meskipun teknologi simulasi sudah sangat maju, asal-usul Bulan tetap menjadi salah satu diskusi paling hangat dalam ilmu astronomi dan geologi.
Melansir dari Science Alert, para ilmuwan secara umum telah mencapai kesepakatan bahwa pembentukan Bulan melibatkan peristiwa katastropik berupa tabrakan benda langit raksasa dengan Bumi purba.
Objek penabrak ini dijuluki Theia, yang diperkirakan menghantam planet kita sekitar 4,51 miliar tahun yang lalu. Namun, perdebatan muncul ketika membahas seberapa besar ukuran Theia tersebut.
Estimasi para ahli sangat bervariasi, mulai dari seukuran proto Merkurius hingga mencapai setengah ukuran massa Bumi saat ini.
Theia dan Teori Tumbukan Raksasa
Dampak dari tumbukan raksasa ini tidak hanya menciptakan Bulan, tetapi juga pada dasarnya mengatur ulang sejarah planet kita.
Model hidrodinamika terbaru menunjukkan bahwa penabrak dengan massa yang besar menjadi penjelasan yang paling masuk akal mengapa batuan Bulan memiliki kemiripan kimiawi yang luar biasa dengan basalt vulkanik kaya olivin yang ditemukan di Bumi.
Pada tahap awal pembentukannya pasca tumbukan, Bulan diperkirakan berupa bola magma pijar raksasa dengan suhu mencapai ribuan derajat. Dalam kondisi ini, material Bulan belum berbentuk batuan padat.
Material tersebut harus melewati proses pendinginan yang sangat lama sebelum mineral kristal dapat terbentuk. Menurut ilmuwan planet Wim van Westrenen, pertanyaan fundamental yang hingga kini sulit dipastikan adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan sejak tumbukan hingga mineral pertama terbentuk.
Warisan Apollo
Pengetahuan manusia tentang Bulan berkembang pesat berkat sampel batuan yang dibawa pulang oleh misi Apollo.
Salah satu yang paling fenomenal adalah Genesis Rock, batuan berusia sekitar 4,46 miliar tahun yang dikumpulkan oleh astronot Apollo 15. Batuan ini hampir seluruhnya terdiri dari mineral putih bernama plagioklas.
Secara geologis, plagioklas memiliki karakteristik bobot yang ringan sehingga cenderung mengapung ke permukaan lautan magma. Keberadaan batuan putih dalam jumlah masif di Bulan menunjukkan bahwa dahulu pernah ada lautan magma dalam jumlah besar yang menutupi seluruh permukaan satelit tersebut.
Fakta menariknya, warna putih Bulan yang kita lihat dengan mata telanjang dari Bumi setiap malam sebenarnya adalah pantulan cahaya matahari dari kristal-kristal plagioklas ini. Apa yang kita pandang hari ini sebenarnya adalah sisa permukaan dari lautan magma purba yang sangat luas.
Eksperimen Laboratorium dan Dilema Komposisi Kimia
Untuk memahami kondisi ekstrem di masa lalu, para ilmuwan kini melakukan rekonstruksi di laboratorium dengan menciptakan tekanan dan suhu yang sangat tinggi. Eksperimen ini bertujuan untuk melihat bagaimana lautan magma mendingin dan mineral apa saja yang muncul pada tahap tertentu.
Hasil penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa seluruh bagian Bulan kemungkinan besar pernah berada dalam kondisi cair total, dengan lautan magma yang mencapai kedalaman sekitar 1.700 kilometer hingga menyentuh intinya.
Namun, di tengah kemajuan simulasi komputer, muncul sebuah anomali besar. Model simulasi klasik memprediksi bahwa komposisi kimia Bulan seharusnya sangat berbeda dari Bumi karena didominasi oleh material dari Theia.
Namun, data lapangan menunjukkan hal sebaliknya di mana batuan Bulan jauh lebih mirip dengan Bumi daripada yang diperkirakan dalam teori mana pun.
Dua Skenario Besar
Dalam menjelaskan proses tabrakan yang maha dahsyat tersebut, para ahli saat ini memfokuskan perhatian pada dua skenario utama yang memiliki dasar logika berbeda. Skenario pertama mengasumsikan bahwa Bumi sudah hampir selesai terbentuk sempurna ketika sebuah objek kecil seukuran planet Merkurius menghantamnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Sementara itu, skenario kedua memproyeksikan kondisi di mana Bumi baru setengah terbentuk, sehingga diperlukan tumbukan dengan objek yang ukurannya jauh lebih besar, yakni sekitar setengah dari massa Bumi saat ini.
Dalam skenario kedua ini, Bulan terbentuk dari sisa material campuran antara Theia dan Bumi yang kemudian menyatu di orbit dan membentuk satelit alami yang kita kenal sekarang.
Logikanya, material silikat yang lebih ringan akan membentuk Bulan, sementara material logam yang lebih berat akan tenggelam ke pusat massa Bumi untuk membentuk inti besi yang besar.
Masalahnya tetap sama, jika Theia berasal dari bagian lain tata surya, komposisinya seharusnya berbeda. Namun hingga hari ini, kemiripan kimiawi antara Bumi dan Bulan tetap menjadi misteri besar yang belum terpecahkan sepenuhnya dalam ilmu planet.
Tinggalkan Komentar
Komentar