periskop.id - Nama Gunung Kawi kembali ramai diperbincangkan. Bukan karena keindahan alamnya yang sejuk atau sejarah panjangnya sebagai situs spiritual, melainkan karena sebuah video yang viral di media sosial pada pertengahan Mei 2026. Video itu memuat pengakuan seseorang yang mengaku sebagai juru kunci kawasan tersebut, menyebut sejumlah artis dan pejabat pernah datang ke Gunung Kawi untuk tujuan yang dikaitkan dengan pesugihan. Salah satu nama yang disebut adalah Sarwendah.
Lantas, apa sebenarnya misteri di balik Gunung Kawi? Apakah pesugihan itu nyata, atau hanya mitos yang terus hidup turun-temurun? Mari kita telusuri faktanya.
Sejarah Gunung Kawi: Jauh Sebelum Ada Cerita Pesugihan
Gunung Kawi bukan tempat yang muncul tiba-tiba di peta wisata mistis Indonesia. Gunung yang berdiri di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur, ini sudah dikenal sejak era Kerajaan Singasari di abad ke-13. Dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis pada masa Majapahit, kawasan ini bahkan disebut sebagai salah satu lokasi sakral.
Di dalam kompleks pesarean atau pemakaman keramat terdapat makam dua tokoh penting.
Pertama adalah Eyang Djoego, atau Kiai Zakaria II, cicit dari Pakubuwono I sekaligus pengawal Pangeran Diponegoro yang wafat pada 1871. Kedua adalah Raden Mas Iman Soedjono, murid sekaligus anak angkatnya. Keduanya diyakini memiliki karomah spiritual yang tinggi, sehingga banyak peziarah datang untuk memohon keberkahan.
Di sinilah akar dari semua cerita berkembang. Ziarah yang murni religius itu, seiring berjalannya waktu, bercampur dengan kepercayaan tentang kekuatan gaib dan lahirlah narasi pesugihan yang kita kenal hari ini.
Pesugihan Gunung Kawi: Mitos yang Hidup Berdampingan dengan Fakta
Kata "pesugihan" berasal dari bahasa Jawa yang berarti upaya mencari kekayaan melalui cara-cara supernatural. Di Gunung Kawi, kepercayaan ini mengakar kuat dan sudah berlangsung puluhan tahun.
Ada dua lokasi utama yang identik dengan cerita pesugihan di kawasan ini:
Pesarean Gunung Kawi Ini adalah makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono.
Di depan makam Eyang Jugo berdiri pohon legendaris bernama Dewandaru. Konon, siapa saja yang kejatuhan daun atau buah dari pohon ini, terutama saat bertapa akan mendapat keberuntungan besar. Pohon Dewandaru disebut tumbuh dari tongkat Eyang Jugo yang ditancapkan ke tanah. Berbuah setahun sekali biasanya di bulan Desember, momen ini selalu dinantikan oleh para peziarah.
Keraton Gunung Kawi Berbeda dengan pesarean yang berada di ketinggian lebih rendah
Keraton Gunung Kawi terletak di ketinggian sekitar 2.860 mdpl. Aura mistisnya terasa lebih kental. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa makam pengawal, serta tempat pemujaan yang kerap ditemukan sesajen. Di sisi timur bangunan utama, juga berdiri pohon Dewandaru satu lagi yang dianggap keramat.
Ritual yang dikaitkan dengan pesugihan umumnya dilakukan pada malam Jumat Legi, salah satu malam yang dianggap paling sakral dalam penanggalan Jawa. Para pelaku ritual biasanya melakukan tirakatan, membawa sesajen berupa bunga, kemenyan, dan makanan, serta berdoa di titik-titik tertentu. Ada juga cerita tentang "wedhus kendit", kambing langka dengan corak putih melingkar di perut yang konon menjadi bagian dari ritual tertentu sebagai tumbal.
Namun begitu, pengelola dan juru kunci resmi pesarean menegaskan bahwa tempat ini pada dasarnya adalah lokasi ziarah, bukan tempat pesugihan. Tidak ada ritual pesugihan resmi yang diakui pihak pengelola.
Pejabat, Artis, dan Gunung Kawi: Antara Fakta dan Spekulasi
Salah satu hal yang terus menjaga Gunung Kawi tetap relevan di ruang publik adalah keterlibatan nama-nama terkenal dalam berbagai isu yang berkaitan dengan tempat ini.
Dalam video yang viral pada 16 Mei 2026, seorang pria yang mengaku sebagai juru kunci keraton Gunung Kawi bernama Sunarto yang tampil dalam wawancara di kanal YouTube Pesulap Merah menyebut sejumlah nama publik figur. Ia mengklaim artis-artis seperti Itje Tresnawati, Eddy Sud, Pance Pondaag, hingga Sarwendah pernah datang ke kawasan tersebut. Ia juga menyebut bahwa saat musim Pilkada, banyak caleg dan pejabat dari Jakarta datang membawa foto calon yang ingin mereka dukung.
Klaim ini langsung memicu gelombang spekulasi di media sosial. Banyak warganet mengaitkan kunjungan Sarwendah ke Gunung Kawi dengan berbagai isu lain, termasuk kondisi kesehatan mantan suaminya, Ruben Onsu.
Namun, kuasa hukum Sarwendah, Simon Abraham, langsung membantah dalam konferensi pers yang digelar pada 18 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa kedatangan Sarwendah ke Gunung Kawi terjadi sekitar tahun 2021 atau 2022, dan tujuannya murni untuk syuting podcast bersama Jordi Onsu, bukan untuk ritual mistis. Hingga kini, tidak ada bukti konkret yang membenarkan klaim pesugihan tersebut.
Ini bukan pertama kalinya Gunung Kawi terseret dalam isu publik figur. Reputasi mistis tempat ini membuat nama siapa pun yang dikaitkan dengannya langsung menjadi bahan perbincangan, bahkan tanpa bukti yang jelas.
Fakta vs. Mitos: Yang Perlu Kamu Ketahui
Supaya tidak terjebak dalam narasi yang simpang siur, berikut beberapa poin penting yang perlu dipahami:
Fakta:
• Gunung Kawi adalah situs sejarah dan ziarah yang sudah ada sejak abad ke-13
• Makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono adalah tujuan ziarah yang sah dan memiliki nilai historis tinggi
• Ribuan peziarah datang setiap tahun, termasuk dari kalangan etnis Tionghoa yang menghormati tokoh Pek Yam, murid kesayangan Eyang Soedjo yang dimakamkan di sana
• Tiket masuk ke kawasan ini hanya Rp 15.000 per orang dan terbuka untuk umum
• Gunung Kawi merupakan ruang spiritual lintas kepercayaan; di kawasan ini ada vihara Buddha dan pura Hindu yang hidup berdampingan
Mitos yang beredar:
• Pesugihan dengan tumbal nyawa atau perjanjian dengan makhluk gaib
• Pohon Dewandaru yang bisa memberikan kekayaan instan jika daun atau buahnya jatuh mengenai seseorang
• Keberadaan “Surojoyo” sosok misterius yang menjaga gerbang ritual pesugihan
• Siluman monyet sebagai manifestasi jiwa yang dikorbankan
Tidak ada satu pun dari mitos tersebut yang terbukti secara ilmiah. Namun, narasi ini terus hidup karena kekuatan cerita rakyat dan daya tarik misteri yang memang sulit ditolak oleh banyak orang.
Mengapa Gunung Kawi sering dianggap tempat pesugihan?
Ada alasan kuat mengapa Gunung Kawi dianggap sebagai tempat pesugihan dan tidak pernah benar "sepi" dari perbincangan baik di dunia nyata maupun di media sosial .
Pertama, kombinasi sejarah dan misteri yang melekat kuat. Tempat ini memiliki akar historis yang otentik, namun dibalut dengan narasi gaib yang terus berkembang. Kombinasi ini menciptakan daya tarik yang sulit dilepaskan.
Kedua, lokasi dan suasana fisiknya memang mendukung imajinasi. Gunung dengan ketinggian lebih dari 2.800 mdpl ini diselimuti kabut tebal di sore hari, dikelilingi hutan lebat, dan dipenuhi aroma dupa dari sesajen yang dibawa peziarah. Siapa pun yang berkunjung akan merasakan atmosfer yang berbeda dari tempat wisata biasa.
Ketiga, keterlibatan nama-nama publik, baik artis maupun pejabat selalu membuat perbincangan soal Gunung Kawi meledak kembali setiap kali muncul isu baru.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar