Periskop.id - Rapor merah membayangi posisi Indonesia dalam lanskap kompetisi global terkini. Berdasarkan laporan berkala bertajuk IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026, peringkat daya saing Indonesia tercatat mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada 2026 ini, posisi Indonesia terlempar ke peringkat 48 dari total 70 negara yang dievaluasi di seluruh dunia.
Pencapaian tersebut menunjukkan adanya tren penurunan yang sangat kontras jika ditilik dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Pasalnya, performa daya saing Indonesia sempat mencapai masa keemasannya pada 2024 dengan menduduki peringkat ke-27 dunia.
Namun, kejayaan itu tidak bertahan lama setelah posisi Indonesia melorot ke peringkat 40 pada 2025, sebelum akhirnya kembali anjlok delapan peringkat hingga terdampar di posisi 48 pada tahun ini.
Lima Faktor Utama Pemicu Pelemahan
Laporan IMD World Competitiveness Ranking mengidentifikasi beberapa faktor krusial yang menjadi penyebab utama di balik penurunan performa ini.
Faktor pertama yang sangat memengaruhi adalah konfrontasi ekonomi global yang kian memanas, di mana situasi tersebut secara langsung mengancam ketahanan energi nasional.
Faktor kedua berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang cenderung berjalan relatif stagnan dan belum mampu melakukan lompatan besar.
Selain faktor eksternal dan makro, kebijakan domestik juga turut memberi pengaruh nyata. Faktor ketiga adalah adanya penyesuaian kembali dalam alokasi anggaran pemerintah yang berdampak pada prioritas pembangunan.
Selanjutnya, faktor keempat dipicu oleh kondisi infrastruktur serta tingkat kompetensi sumber daya manusia di tanah air yang dinilai masih belum memadai.
Sebagai pelengkap dari rangkaian persoalan tersebut, faktor kelima yang menjadi penghambat adalah terbatasnya ketersediaan sumber pembiayaan yang dapat diakses untuk mendorong ekspansi.
Ironi Efisiensi Bisnis dan Kinerja Pemerintah
Apabila membedah indikator penilaian secara lebih spesifik, pelemahan paling mengkhawatirkan justru terjadi pada sektor-sektor penentu iklim investasi dan produktivitas nasional. Penurunan yang paling tajam dan dramatis terlihat pada aspek efisiensi bisnis (Business Efficiency).
Setelah sempat tampil impresif di posisi ke-14 dunia pada 2024, peringkat efisiensi bisnis Indonesia langsung merosot ke posisi ke-26 pada 2025, dan mengalami kejatuhan yang sangat dalam hingga ke posisi ke-50 pada 2026.
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga melanda sektor tata kelola makro di mana kinerja pemerintah terus mengalami tekanan yang konstan.
Pada faktor efisiensi pemerintahan (Government Efficiency), posisi Indonesia terus merosot dari yang semula berada di peringkat ke-23 pada 2024, lalu turun ke peringkat ke-34 pada 2025, hingga akhirnya kembali melemah dan terdampar di posisi ke-38 pada tahun ini.
Ketahanan Ekonomi Melawan Beban Infrastruktur
Meskipun dihantam berbagai penurunan di sektor efisiensi dan tata kelola, laporan IMD tetap memberikan catatan positif pada satu aspek fundamental. Indonesia dinilai masih memiliki kekuatan utama yang kokoh pada aspek kinerja ekonomi.
Untuk faktor Economic Performance, posisi Indonesia berhasil mengamankan peringkat ke-24 dunia. Pencapaian ini mencerminkan bahwa ketahanan ekonomi nasional sebenarnya masih relatif baik dan kompetitif apabila dibandingkan dengan banyak negara berkembang lainnya di panggung global.
Akan tetapi, performa ekonomi yang dinilai cukup solid tersebut rupanya belum mampu menjadi daya dongkrak yang kuat untuk mengangkat peringkat daya saing secara keseluruhan. Hal ini terjadi karena sektor infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah terbesar dan paling berat yang dihadapi oleh pemerintah.
Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-58 dunia untuk faktor Infrastructure. Rendahnya kualitas dan pemerataan infrastruktur inilah yang pada akhirnya menjadi aspek paling membebani bagi perbaikan indeks daya saing nasional.
Tercecer di Posisi Juru Kunci Kawasan ASEAN
Apabila membandingkan posisi di tingkat regional, capaian indeks daya saing Indonesia menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan karena harus rela tercecer di antara sesama negara anggota ASEAN lainnya.
Berdasarkan sumber yang sama, Singapura masih memimpin dengan perkasa di peringkat pertama dunia sebagai negara dengan daya saing tertinggi.
Posisi Singapura kemudian diikuti oleh Malaysia yang menempati peringkat ke-15 dunia, serta Thailand yang berada di posisi ke-26 dunia. Sementara itu, Vietnam berhasil menunjukkan taringnya dengan mengamankan peringkat ke-27 dunia.
Posisi Indonesia bahkan harus mengakui keunggulan Filipina yang berada di peringkat ke-47 dunia. Dengan menempati peringkat ke-48 dunia, Indonesia terpaksa berada di posisi juru kunci jika dibandingkan dengan lima negara utama ASEAN lainnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar