Periskop.id - BPJS Kesehatan mencatat peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah menyentuh 282,7 juta jiwa atau 98,62% dari total penduduk Indonesia. Sepanjang 2025, layanan kesehatan melalui program ini dimanfaatkan sebanyak 725,3 juta kunjungan.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menilai, capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya peran JKN sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan produktif, sekaligus membuktikan terjaganya keberlanjutan program lewat tata kelola keuangan yang sehat.

"Program JKN bukan sekadar memberikan jaminan pembiayaan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi fondasi bagi terciptanya SDM Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing," ujar Pujo dalam paparan publik bertajuk "Pengelolaan Program dan Laporan Keuangan BPJS Kesehatan Tahun 2025" di Jakarta, Kamis.

Rata-rata layanan yang diberikan, menurut Pujo, melampaui 1,9 juta kunjungan per hari. Angka itu ia sebut sebagai cerminan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap JKN sekaligus bukti meningkatnya akses warga terhadap layanan kesehatan.

Guna memperluas kemudahan akses, BPJS Kesehatan terus mengembangkan transformasi digital. Layanan yang tersedia mencakup Aplikasi Mobile JKN, layanan administrasi melalui WhatsApp PANDAWA, serta Care Center 165.

Pujo juga memaparkan perluasan jaringan fasilitas kesehatan mitra. Hingga kini, cakupannya meliputi 23.770 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 3.194 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), dan 6.190 fasilitas kesehatan penunjang di seluruh Indonesia.

Dari sisi keuangan, aset bersih Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan per akhir 2025 tercatat sebesar Rp30,04 triliun. Nilai itu setara dengan kemampuan membayar estimasi klaim selama 1,88 bulan, sesuai ketentuan yang berlaku.

Hasil investasi DJS Kesehatan dibukukan sebesar Rp3,94 triliun, yang menurut Pujo mencerminkan pengelolaan dana secara hati-hati demi menjaga keberlangsungan program. Pada tahun buku 2025, BPJS Kesehatan juga kembali meraih opini Wajar Tanpa Modifikasi (WTM) dari Kantor Akuntan Publik untuk ke-12 kalinya berturut-turut.

Dampak JKN turut dirasakan pada perekonomian nasional. Berdasarkan kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), program ini berkontribusi mengerek Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp129 triliun serta menciptakan sekitar 3,5 juta lapangan kerja.

Kajian yang sama mengungkap, JKN turut menyelamatkan sekitar 8,1 juta penduduk dari kemiskinan pada periode 2018-2019. Program ini juga melindungi sekitar 16 juta penduduk dari risiko jatuh miskin akibat beban biaya kesehatan.

Setiap kenaikan satu persen kepesertaan JKN diperkirakan mampu mendongkrak pengeluaran per kapita sebesar 2,71%, menambah angka harapan hidup hingga tiga tahun, serta mendorong produktivitas masyarakat secara keseluruhan.