periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi datangnya gelombang tsunami usai gempa bermagnitudo 7,7. Bencana ini berpusat di perairan barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara.
Lembaga pemantau tersebut mendeteksi langsung kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah pesisir. Ketinggian gelombang ini tercatat bervariasi bergantung pada titik stasiun pengamatan.
Pemutakhiran peringatan dini tsunami level 3.2 resmi dirilis oleh otoritas terkait guna meningkatkan kewaspadaan publik. Langkah taktis ini diambil menyusul guncangan kuat yang terjadi tepat pada pukul 06.37 WIB.
Berdasarkan data seismik, pusat lindu terdeteksi berada pada kedalaman 47 kilometer di bawah permukaan laut. Titik koordinat episentrum terletak di 5,79 Lintang Utara dan 125,14 Bujur Timur.
BMKG mencatat terjangan gelombang tertinggi melanda kawasan pesisir Talengan, Sulawesi Utara. Tsunami setinggi 0,75 meter terpantau menghantam wilayah ini pada pukul 08.20 WIB.
Kenaikan level air laut yang cukup signifikan juga terpantau di daerah Paleleh. Ketinggian air di lokasi tersebut menyentuh angka 0,45 meter sekitar pukul 07.34 WIB.
Wilayah Melonguane di Kepulauan Talaud dan area Tanjung Sidupa turut masuk dalam daftar terdampak. Kedua area tersebut masing-masing mencatatkan tinggi gelombang mencapai 0,32 meter.
Data pengamatan instrumen juga menunjukkan datangnya ombak setinggi 0,30 meter di Tahuna pada pukul 06.58 WIB. Sementara itu, wilayah pesisir Bitung mencatat hantaman gelombang setinggi 0,29 meter.
Rembesan gelombang tsunami berskala lebih kecil dilaporkan meluas hingga perairan Maluku Utara dan area sekitarnya. Kawasan Ulu Siau Sitaro mencatat 0,18 meter, Ternate 0,14 meter, sedangkan Loloda Halmahera Barat berada di angka 0,09 meter.
Jarak episentrum utama sendiri diukur sejauh 244 kilometer dari daratan Pulau Karatung. Rekaman data riil ini menegaskan pentingnya proses mitigasi berlanjut bagi warga pesisir terhadap ancaman gelombang susulan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar