periskop.id - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menegaskan pemerintah menutup pintu bagi investasi baru di sektor budidaya ayam. Sektor tersebut akan didorong masuk ke dalam daftar negatif investasi (negative list) agar tidak ada tambahan modal masuk ke bisnis pembesaran dan peternakan ayam.
Sikap tegas itu diambil karena Indonesia dinilai sudah mampu memenuhi kebutuhan daging ayam dan telur secara mandiri. Pasokan bahkan disebut sudah melampaui kebutuhan pasar, sehingga tambahan investasi di sektor ini justru berpotensi memperparah kondisi kelebihan produksi yang ada.
"Ada surat rekomendasi, kita akan kirim ke BKPM negative list investasi itu untuk sektor budidaya ayam. Kalau bisa sudah tidak ada lagi investasi baru, rakyat Indonesia sudah sanggup. Kalau ada investor lain, suruh bergerak di sektor lain," kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (9/6).
Amran menekankan, investasi tetap dibutuhkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ia meminta agar investor diarahkan ke sektor-sektor yang tidak bersinggungan langsung dengan usaha masyarakat kecil.
"Apakah di pabrik gula, hilirisasi tambang, tapi jangan mengganggu ekonomi rakyat kecil. Supaya ini sustain," ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus merupakan respons atas beredarnya kabar adanya investor asal China yang disebut berminat mengembangkan bisnis peternakan ayam di Indonesia. Amran mengungkapkan pihaknya sudah mengambil langkah resmi terkait hal tersebut.
"Iya, kami sudah menyurat langsung. Sudah saya tanda tangan. Dan nanti aku sampaikan langsung juga," tegasnya.
Kabar ketertarikan investor China itu sebelumnya sempat memicu kegelisahan di kalangan peternak lokal yang tengah berjuang menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan telur dan daging ayam. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pun turun tangan memberikan klarifikasi.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Peternakan Cecep M. Wahyudin menyebutkan, informasi yang beredar di publik sudah jauh melampaui kondisi sebenarnya. Menurutnya, diskusi dengan delegasi China masih berada pada tahap penjajakan awal dan belum bergerak ke arah realisasi konkret.
"Perlu kami jelaskan bahwa itu adalah tahap awal adanya rencana, atau keinginan investor dan delegasi dari China yang berminat untuk masuk ke Indonesia, untuk mengembangkan peternakan ayam di Indonesia," terang Cecep.
Cecep merinci, delegasi industri telur asal China memang sempat berkunjung ke Indonesia pada 21 April 2026 untuk membahas peluang kerja sama investasi dan transfer teknologi peternakan modern, khususnya di Aceh. Rencana yang sempat dibahas mencakup investasi sekitar Rp1,4 triliun untuk pembangunan breeding farm, pabrik pakan, hingga fasilitas pengolahan telur dengan melibatkan peternak rakyat. Ia memastikan perusahaan tersebut tidak akan berperan sebagai integrator vertikal yang menguasai seluruh rantai bisnis perunggasan.
Kadin juga mengaku paham betul kondisi pasokan dan permintaan di industri perunggasan nasional yang saat ini sedang surplus. Karena itu, setiap rencana pengembangan usaha dinilai harus mempertimbangkan keseimbangan antara keduanya. Cecep menegaskan, penguatan kapasitas produksi ke depan tetap difokuskan pada pemberdayaan peternak rakyat dan koperasi desa, bukan melalui masuknya pemain besar baru.
"Kadin beserta Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi terus menggenjot upaya bagaimana mempercepat dan memperbesar peternak rakyat, jadi antara berita dan kenyataan ini sangat jauh dari kenyataan," pungkas Cecep.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar