periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya memprioritaskan pasar domestik dalam strategi pemulihan ekonomi.
Ia menuturkan, permintaan domestik menyumbang sekitar 90% perekonomian Indonesia. Dengan angka tersebut, fokus pada permintaan dalam negeri bisa menjaga stabilitas ekonomi meski kondisi global tengah bergejolak.
"Ngapain kita pusing-pusing soal dunia, kalau domestic demand kita kuat, ekonomi kita tetap stabil,” ujar Purbaya di Jakarta, ditulis Selasa (2/12).
Ia menilai pengalaman Indonesia saat krisis keuangan global pada tahun 2008 sampai 2009 menjadi contoh nyata. Saat itu, negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Korea, Jepang, Eropa, dan Amerika mengalami pertumbuhan negatif. Sementara Indonesia mampu tumbuh positif sebesar 4,6%, bersama China dan India.
Salah satu kuncinya, menurut Purbaya, adalah menjaga permintaan domestik melalui ekspansi fiskal dan kebijakan moneter yang tepat, bukan menyerahkan pasar pada pengaruh asing.
"Kalau domestic demand-nya dikuasai asing, buat apa? Yang untung ya pengusaha asing. Makanya kita jaga pasar domestik untuk pengusaha kita sendiri,” tuturnya.
Selain itu, menurutnya pemerintah harus menutup pintu masuk barang ilegal, seperti baju bekas, baja, dan sepatu, untuk melindungi industri dalam negeri. Dengan langkah-langkah itu, Purbaya optimis target pertumbuhan ekonomi 6–8% dalam beberapa tahun ke depan bukan hal yang mustahil.
"Kalau kita lajukan secara bertahap, mesin pemerintah jalan, sektor swasta jalan, domestic market terjaga, ekonomi dan investasi diperbaiki, angka 8% bisa dicapai,” tegasnya.
Purbaya menambahkan, keberhasilan menjaga pasar domestik juga tercermin pada pasar modal, di mana investor menunjukkan optimisme yang meningkat. Hal ini menandakan bahwa pelaku pasar percaya pada keseriusan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Tinggalkan Komentar
Komentar