Periskop.id - Di tengah krisis pangan global yang menghantui banyak negara besar, sebuah kabar mengejutkan datang dari Amerika Selatan. Guyana, negara dengan populasi hanya sekitar 830.000 jiwa, diam-diam telah mengukir sejarah sebagai satu-satunya negara di dunia yang berhasil mencapai swasembada pangan penuh untuk seluruh kelompok makanan esensial.

Dilansir dari BBC Science Focus, temuan ini merupakan hasil riset terobosan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Food. Studi tersebut menganalisis 186 negara untuk menilai kapasitas produksi domestik dalam memberi makan penduduknya. 

Hasilnya sangat tegas bahwa Guyana menjadi satu-satunya negara yang mencapai kemandirian di ketujuh kelompok makanan esensial, yakni buah-buahan, sayuran, produk susu, ikan, daging, kacang-kangan dan biji-bijian, serta bahan pangan pokok bertepung.

Meski tetap melakukan perdagangan internasional layaknya negara modern, Guyana memiliki kapasitas unik untuk memenuhi seluruh gizi warganya secara mandiri.

Keterbatasan Lahan Bukan Penghalang

Pencapaian ini tergolong ajaib mengingat keterbatasan geografis yang dimiliki Guyana. Negara ini terjepit di antara Venezuela, Brasil, dan Suriname, di mana sebagian besar penduduknya terkonsentrasi di dataran pesisir yang luasnya kurang dari lima persen dari total wilayah daratan. Wilayah pedalamannya didominasi oleh Guiana Shield, sebuah formasi geologi purba berupa hutan hujan alami yang sangat dilindungi.

Namun, Guyana membuktikan bahwa mereka bisa mandiri tanpa merusak alam. Saat negara tetangganya di Amerika Selatan melakukan deforestasi besar-besaran untuk lahan ternak, Guyana justru berhasil mempertahankan lebih dari 85% hutan aslinya. 

Keberhasilan ini didukung oleh posisi astronomisnya di satu hingga sembilan derajat lintang utara yang memberikan curah hujan melimpah, suhu hangat, dan tanah liat subur kiriman sistem Sungai Amazon.

Strategi Cerdas: Tumpang Sari dan Pertanian Regeneratif

Kunci utama keberhasilan Guyana terletak pada metode penanaman. Di saat dunia terobsesi dengan sistem monokultur (satu jenis tanaman di lahan luas), petani Guyana justru menerapkan sistem tumpang sari. Mereka menanam dua atau lebih jenis tanaman di lahan yang sama agar saling melengkapi sumber daya.

Sebagai contoh, petani kelapa menanam nanas atau tomat di sela pohon muda. Ada pula jagung yang ditanam bersama kedelai, di mana kedelai secara alami mengikat nitrogen yang dibutuhkan tanah sementara jagung memanfaatkan nutrisi pada fase yang berbeda. 

Teknik ini terbukti meningkatkan hasil panen sebesar 1,2 hingga 1,5 kali dibandingkan penanaman tunggal. Sistem ini juga berfungsi sebagai asuransi alami, jika satu tanaman gagal akibat hama atau cuaca, tanaman lain masih bisa dipanen.

Selain itu, Guyana menerapkan apa yang kini dikenal dunia sebagai pertanian regeneratif. Mereka mengintegrasikan peternakan dengan sistem tanam dan memastikan akar tanaman hidup selalu berada di dalam tanah sepanjang tahun untuk mencegah erosi.

Struktur tanah dunia memang dilaporkan memburuk dalam 60 tahun terakhir yang menyebabkan kemampuan menahan air dan nutrisi berkurang. Namun, Guyana menghindari jebakan ini. Akar hidup di lahan mereka mengeluarkan karbohidrat yang mendorong aktivitas mikroorganisme, mempercepat penguraian, dan secara aktif membangun kembali kesehatan tanah. Hasilnya adalah siklus positif yang membuat sistem pertanian mereka dapat bertahan tanpa batas waktu.

Pelajaran Penting Bagi Dunia

Keberhasilan Guyana memberikan tiga pelajaran penting bagi negara lain termasuk Indonesia. Pertama adalah pentingnya bekerja selaras dengan alam dengan cara mengembangkan varietas lokal yang sudah beradaptasi dengan iklim setempat. Kedua, keragaman tanaman terbukti memberikan ketahanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan efisiensi semu monokultur.

Ketiga, investasi pada fondasi dasar seperti irigasi, drainase, dan pendidikan petani adalah harga mati. Seperti yang dicatat oleh Jessica Fanzo, profesor iklim di Columbia Climate School, luas lahan pertanian sebenarnya tidak sepenting bagaimana lahan tersebut dikelola. Guyana telah membuktikan bahwa negara kecil dengan sumber daya terbatas tidak harus mengalami kerawanan pangan jika memiliki pemikiran strategis dan praktik pertanian yang cerdas.