periskop.id – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mengungkapkan dampak serius insiden kontaminasi radioaktif di Cikande terhadap arus perdagangan internasional, khususnya ekspor ke Amerika Serikat.

Otoritas Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) kini memperketat syarat masuk bagi produk udang dan rempah-rempah asal Indonesia.

"FDA Amerika menerbitkan peringatan impor, yang mempersyaratkan produk udang dan rempah-rempah dari Jawa dan Lampung harus bersertifikat bebas kontaminasi," ujar Plt Kepala Bapeten Zainal Arifin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (10/2).

Zainal menjelaskan pengetatan regulasi ini merupakan konsekuensi langsung dari temuan kontaminasi limbah radioaktif Cesium-137 di kawasan industri Cikande beberapa waktu lalu.

Pihaknya kini bekerja sama erat dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk memenuhi standar ketat tersebut.

Bapeten memberikan dukungan teknis berupa pemindaian dan uji laboratorium untuk memastikan produk ekspor aman dari paparan radiasi sebelum dikapalkan.

"Bapeten adalah salah satu dari dua lembaga yang diakui oleh FDA untuk uji lab selain BRIN," tuturnya.

Langkah cepat sertifikasi ini diambil mengingat sektor udang dan rempah merupakan industri strategis yang menyerap banyak tenaga kerja lokal.

Zainal tidak ingin hambatan nontarif ini mematikan mata pencaharian ribuan pekerja di sektor perikanan dan perkebunan.

"Industri udang dan rempah-rempah adalah industri padat karya dengan jumlah pegawai sekitar 1.000 sampai 4.000 orang," katanya.

Bapeten mencatat proses pemulihan ekspor telah berjalan positif sejak pintu perdagangan dibuka kembali dengan syarat baru tersebut pada akhir tahun lalu.

Zainal memaparkan ribuan ton produk telah berhasil lolos uji dan menembus pasar Negeri Paman Sam.

"Per 17 Desember 2025, sebanyak 640 kontainer udang bersertifikat bebas cesium telah dikirim sejak ekspor perdana yang dibuka kembali pada Oktober 2025," ungkapnya.

Total volume pengiriman komoditas yang telah lolos uji radiasi tersebut mencapai angka cukup signifikan di tengah ketatnya pengawasan.

"Total volume pengiriman mencapai 10.312 ton," pungkasnya.