periskop.id - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait memastikan program penggantian atap seng menjadi genteng atau “gentengisasi” akan mengutamakan penggunaan produk  ‎dalam negeri.

Menurut Maruarar, pemerintah sebenarnya memiliki opsi untuk mengimpor material demi kemudahan dan kecepatan pelaksanaan. Namun, ia menilai langkah tersebut tidak sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan industri nasional.

‎"Jadi kalau mau simple sih kita bisa saja import, tapi menurut saya kita jangan melakukan itu, kita gunakan kesempatan ini untuk menggerakkan daripada industri dalam negeri kita, soal genteng ini," kata Maruar dalam Rakor Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatera, Jakarta, ditulis Kamis (19/2). 

‎Ia menyampaikan akan menyusun kajian komprehensif dalam waktu sepekan untuk dilaporkan kepada pimpinan, sekaligus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait spesifikasi dan jenis genteng yang akan digunakan dalam program tersebut.

‎"Jadi kalau boleh izin kami minta waktu seminggu dengan kajiannya lengkap untuk kami laporkan. Dan nanti dengan BNPB bisa sama-sama, sehingga nanti kita koordinasi genting mana yang mau digunakan," jelasnya. 

‎Ara sapaan akrabnya itu menekankan bahwa industri genteng dalam negeri, termasuk pelaku usaha rumahan dan UMKM, memiliki tenaga kerja dalam jumlah besar. Ia menilai hal ini justru dapat menggerakan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

‎"Juga dengan Pak Menteri Keuangan (Purbaya Yudhi Sadewa), saya izin nanti kalau boleh itu kita untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi Pak Menteri Keuangan, supaya ekonomi juga bergerak di lapangan," tambahnya. 

‎Oleh karena itu, program gentengisasi diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas hunian masyarakat, tetapi juga menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.

‎"Karena pegawai-pegawai dari industri genting rumahan ini, UMKM, itu besar sekali jumlahnya. Semoga program ini bisa membantu menggerakkan pertumbuhan ekonomi," tutup Ara.