Periskop.id - Harga beras di pasar domestik yang kerap melonjak bukan sekadar fenomena musiman akibat cuaca atau fluktuasi ekonomi sesaat. Sebuah studi mendalam mengungkap adanya masalah struktural yang telah lama berakar dalam sistem produksi pangan nasional.
Laporan riset dari Working Paper LPEM FEB UI yang bertajuk “Understanding Indonesia’s High Rice Prices: Structural Costs, Protection, and The Political Economy Of Persistence” memaparkan fakta mengejutkan mengenai ketertinggalan efisiensi pertanian Indonesia.
Berdasarkan indikator Effective Rice Production Cost Competitiveness Index (ECCI) dengan Vietnam sebagai titik acuan (angka 100), Indonesia tercatat sebagai negara paling tidak kompetitif di antara enam negara produsen utama Asia.
Nilai ECCI Indonesia mencapai angka 414, yang berarti biaya produksi efektif di tanah air lebih dari empat kali lipat dibandingkan Vietnam.
Angka ini jauh melampaui biaya produksi di Tailan, Tiongkok, India, maupun Filipina, bahkan setelah dilakukan penyesuaian terhadap perbedaan hasil panen.
Studi ini memberikan kesimpulan krusial bahwa sekadar meningkatkan volume panen tidak akan serta-merta memperbaiki daya saing beras nasional.
Sumber utama tingginya harga harus dibereskan terlebih dahulu. Peneliti menemukan bahwa 80% biaya produksi beras di Indonesia tersedot oleh dua komponen utama, yaitu proporsi tenaga kerja yang tidak efisien dan harga sewa lahan yang sangat tinggi.
Sebagai gambaran perbandingan langsung, gabungan biaya tenaga kerja dan lahan di Indonesia mencapai PHP11,9 per kilogram gabah. Angka ini bahkan jauh lebih tinggi daripada total biaya produksi keseluruhan di Vietnam yang hanya sebesar PHP5,14 per kilogram gabah.
Paradoks Tenaga Kerja: Padat Karya Tapi Rendah Produktivitas
Tenaga kerja merupakan komponen paling signifikan sekaligus isu politik yang sensitif. Persoalan utama di Indonesia bukan hanya terletak pada nominal upah, melainkan pada penggunaan jumlah tenaga kerja yang terlalu masif di area sawah.
Data menunjukkan bahwa untuk setiap hektare lahan, pertanian padi di Indonesia mengerahkan tenaga manusia yang jauh lebih besar dibandingkan negara Asia lainnya.
Berikut adalah perbandingan penggunaan tenaga kerja per tahun:
- Indonesia: 190 hari-orang per hektare
- India: 156 hari-orang per hektare
- Filipina: 139 hari-orang per hektare
- Vietnam: 64 hari-orang per hektare
- Tiongkok: 55 hari-orang per hektare
- Tailan: 21 hari-orang per hektare
Implikasi dari banyaknya tenaga kerja ini adalah rendahnya produktivitas. Jika dihitung dari hasil panen per satu hari-orang, petani Indonesia hanya menghasilkan sekitar 64 kilogram gabah.
Bandingkan dengan Vietnam yang mencapai 400 kilogram atau Tailan yang menembus lebih dari 500 kilogram per satu hari-orang. Secara matematis, produktivitas pertanian di Vietnam dan Thailand mencapai 6 hingga 8 kali lipat lebih produktif dibandingkan Indonesia.
Beban Sunyi dari Sewa Lahan
Selain tenaga kerja, biaya sewa lahan menjadi faktor beban yang sangat berat namun jarang dibahas secara luas. Per kilogram hasil panen, biaya sewa lahan di Indonesia sekitar 4,5 kali lebih tinggi dibandingkan Vietnam.
Fenomena ini mencerminkan tingginya nilai lahan di wilayah padat penduduk yang mengalami urbanisasi cepat, khususnya di Pulau Jawa.
Meskipun lahan di luar Pulau Jawa tersedia dengan harga lebih murah, keunggulan tersebut tertutup oleh berbagai hambatan teknis seperti:
- Hasil panen yang lebih rendah akibat sistem irigasi yang lemah.
- Kualitas unsur hara tanah yang buruk.
- Infrastruktur pendukung yang tidak memadai.
Kondisi ini diperparah oleh fragmentasi lahan dan sistem sewa informal berjangka pendek yang mematok tarif di atas harga wajar. Ketidakpastian penguasaan lahan ini melemahkan posisi tawar petani.
Selain itu, kebijakan penetapan harga beras lokal yang lebih tinggi daripada harga internasional menciptakan "rente kebijakan". Hal ini justru menjebak produsen lokal dalam siklus harga tinggi karena biaya sewa lahan ikut terkerek naik mengikuti ekspektasi harga jual beras yang mahal.
Studi ini menegaskan bahwa tanpa reformasi struktural pada pengelolaan lahan dan modernisasi tenaga kerja, Indonesia akan terus terjebak dalam anomali harga beras yang membebani konsumen namun tidak memberikan kesejahteraan yang signifikan bagi para petaninya.
Tinggalkan Komentar
Komentar