periskop.id - Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia sekaligus Ketua Penasihat CSED INDEF KH Ma’ruf Amin mengungkapkan masa depan ekonomi syariah Indonesia sangat ditentukan oleh kekuatan ruh dan integritas para pelakunya, bukan semata oleh label institusinya.
Ma’ruf mengibaratkan ekonomi syari’ah seperti pesantren sebuah ekosistem yang hidup bukan karena kemegahan bangunan, melainkan karena nilai dan semangat yang menggerakkannya.
"Ekonomi syari'ah itu seperti pesantren. Kita contoh model pesantren," ucapnya dalam agenda Sarasehan 99 Ekonom Syariah Indonesia di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan Selasa (24/2).
Pesantren, kata Ma’ruf memiliki tiga elemen utama yakni sebagai sumber daya manusia, kitab sebagai sistem nilai, dan kiai sebagai penjaga arah. Ketiganya menyatu membentuk kekuatan yang melahirkan peradaban.
Analogi tersebut kemudian ditarik ke dalam konteks ekonomi syariah nasional. Para pelaku usaha dan industri adalah santrinya. Sistem dan prinsip syariah adalah kitabnya. Sementara para ekonom, ulama, akademisi, dan pemikir kebijakan berperan sebagai kiai yang menjaga agar arah pembangunan ekonomi tetap sesuai dengan nilai-nilai syariah.
"Sistem syariah seperti Kitab dan para ekonomi syari'ah adalah seperti Kiainya yang menjaga arah dan peradaban ekonomi," lanjut dia.
Selanjutnya, menurut Ma’ruf, kekuatan pesantren bukan terletak pada fasilitas atau kemegahan fisiknya, tetapi pada ruh yang hidup di dalamnya.
"Kekuatan pesantren bukan pada gedungnya bukan pada fasilitasnya tapi pada rohnya," sambung Ma'ruf.
Pesantren sederhana dapat melahirkan ulama besar karena nilai dan komitmennya terjaga. Sebaliknya, lembaga besar tanpa ruh hanya akan melahirkan formalitas. Hal yang sama, tegasnya, juga berlaku dalam ekonomi syari’ah. Jika yang dibangun hanya institusinya, sementara perilaku dan orientasinya tidak mencerminkan prinsip syari’ah, maka yang lahir hanyalah ekonomi “berseragam syari’ah”, bukan ekonomi syari’ah yang sejati.
Karena itu, Ma’ruf menekankan pentingnya membalikkan kembali ruh ekonomi syari’ah dalam lanskap pembangunan nasional. Salah satu langkah strategis yang perlu ditempuh adalah integrasi ekosistem. Keuangan syari’ah tidak boleh berjalan sendiri. Industri halal tidak boleh berdiri terpisah.
"Zakat dan wakaf tidak boleh bergerak dalam ruang yang terfragmentasi. Seluruh instrumen tersebut harus dirajut menjadi satu kekuatan ekonomi yang saling terhubung dan saling menguatkan," ucap Ma’ruf.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, literasi dan inklusi ekonomi syariah harus diperluas, baik bagi pelaku ekonomi yang sudah eksis maupun generasi calon pelaku usaha. Pembangunan ekonomi syariah, ujarnya, bukan hanya soal instrumen dan regulasi, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran nilai.
Rancang bangun ekonomi syariah di berbagai sektor pun perlu diselaraskan dengan ruh tersebut. Tanpa keselarasan antara konsep, kebijakan, dan implementasi, ekonomi syariah berisiko terjebak pada simbolisme tanpa substansi.
"Kita perlu membalikkan roh ekonomi syari'ah dalam landscape ekonomi syari'ah nasional," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar