banner-sheroes-yoga
Ekonomi

Deputi BI: Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh Hadapi Gejolak Global

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebut Bank Indonesia jaga stabilitas ekonomi dan dorong pertumbuhan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Deputi BI: Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh Hadapi Gejolak Global
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti dalam agenda peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) secara online di Jakarta, Jumat (27/2).Periskop/Maria Jessica
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian global yang terus bergelora mulai dari dinamika ekonomi internasional hingga gejolak geopolitik Indonesia tetap bergerak mantap.

"Bank Indonesia memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan nasional. Tidak hanya melalui kebijakan moneter, tetapi juga sistem pembayaran dan kebijakan makroprudensial yang saling mendukung,” ujarnya dalam agenda peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) secara online Jakarta, Jumat (27/2).

Menurut Destry, koordinasi dan sinergi antar-pemangku kepentingan menjadi kunci. Dengan arahan kebijakan yang jelas, seluruh institusi keuangan, regulator, dan pelaku bisnis bergerak seirama, memastikan arah pertumbuhan tetap pada jalurnya meski menghadapi guncangan global maupun domestik.

"Ini seperti satu kapal besar yang kita dayung bersama-sama semuanya fokus ke tujuan yang sama dengan satu kepemimpinan yang kokoh,” tambahnya.

Ia menyebut salah satu instrumen utama yang dijalankan BI adalah kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM). Dalam dua tahun terakhir, kebijakan ini telah memberikan total insentif hingga Rp427,5 triliun kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, termasuk sektor inklusi dan produktif.

Dari sisi kesehatan sistem keuangan, Indonesia menunjukkan performa solid. Rasio alat likuiditas bank berada di 27,6%, sementara capital adequacy ratio mencapai 25,9% jauh di atas batas minimum yang ditetapkan 8%.

"Meskipun likuiditas bank tinggi, pertumbuhan kredit masih di bawah potensi, sehingga kebijakan BI terus mendorong ekspansi kredit yang produktif dan inklusif," terang dia.

Lebih lanjut, Destry menekankan kombinasi kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan makroprudensial, dipadukan dengan kebijakan pendukung seperti keuangan hijau dan inklusi, membentuk fondasi yang kokoh bagi ekonomi Indonesia.

"Langkah strategis ini, kita tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, meski menghadapi ketidakpastian global,” tuturnya.

Ia mengklaim, dengan komitmen yang kuat dan koordinasi seluruh pemangku kepentingan, Indonesia siap melaju ke masa depan yang lebih stabil, inklusif, dan produktif.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Bank Indonesia (BI), gejolak global, dan ekonomi dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.