periskop.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa perbankan nasional kini mulai menunjukkan kesiapan untuk menyalurkan pembiayaan secara lebih masif. Menurutnya, penurunan suku bunga pinjaman atau lending rate untuk kredit baru telah mencapai 88 basis points, mencerminkan respons bank terhadap penurunan suku bunga acuan BI Rate sejak September 2024.
"Tapi kita lihat memang lending rate belakangan untuk yang kredit baru, dia turunnya sudah lumayan, sudah 88 basis point. 88 basis point dia turun, artinya bank sudah mulai siap sebenarnya," ujarnya dalam agenda peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) di Jakarta, Jumat (27/2).
Destry menambahkan, kapasitas likuiditas perbankan saat ini masih sangat besar, memberikan ruang yang luas bagi bank untuk memperluas penyaluran kredit. Namun, untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, Bank Indonesia tetap mendorong penyaluran kredit melalui kebijakan likuiditas makro prudensial (KLM).
Hingga kini, total insentif yang dikucurkan BI mencapai Rp 427,5 triliun, yang terbagi antara channel lending senilai Rp 357,9 triliun dan channel interest sebesar Rp 69,6 triliun. Menurut Destry, interest channel ini baru diperkenalkan dalam beberapa bulan terakhir, namun telah tepat waktu untuk mendorong penyaluran kredit.
"Rp 427,5 triliun, yang tersalurkan untuk lending channel insentifnya adalah sekitar Rp 357,9 triliun, sementara interest channel Rp 69,6 triliun," lapornya.
Meski demikian, Destry menekankan percepatan penurunan suku bunga pinjaman masih menjadi fokus utama. Pasalnya, BI Rate sendiri telah turun sebanyak 150 basis points, namun penurunan suku bunga kredit baru belum sepenuhnya mengikuti potensi tersebut.
Selain itu, permintaan kredit dari masyarakat dan korporasi juga masih relatif rendah. Bukti nyata terlihat dari angka fasilitas kredit yang belum terpakai, atau undisbursed loan yang masih mencapai Rp 2.506 triliun, setara dengan 22,65% dari total platform kredit yang tersedia.
“Kita ingin bank tidak hanya memiliki ruang untuk menyalurkan kredit, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembiayaan produktif,” katanya.
Dengan strategi ini, BI berharap perbankan dapat lebih agresif menurunkan suku bunga kredit, memperluas penyaluran pembiayaan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sambil tetap menjaga stabilitas sistem keuangan yang sehat.
Tinggalkan Komentar
Komentar