periskop.id - Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (PT SMF), Martin D. Siyaranamual menilai program 3 Juta Rumah masih belum terlihat secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional hingga akhir 2025.
Menurut Martin, kondisi tersebut masih dapat dimaklumi karena program tersebut berada pada tahap awal implementasi. Dampak terhadap kontribusi sektor perumahan terhadap produk domestik bruto (PDB) diperkirakan membutuhkan waktu sebelum terlihat secara nyata.
"Saya sepakat bahwa paling tidak, hingga akhir 2025, belum kelihatan. Belum kelihatan impact-nya. Belum kelihatan dampaknya dari program 3 Juta Rumah untuk mendorong sumbangan sektor rumahan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Martin dalam konferensi pers, Jakarta, Rabu (4/3).
Dia menuturkan, evaluasi terhadap efektivitas program tersebut menjadi salah satu tanggung jawab PT SMF sebagai lembaga penyedia likuiditas pembiayaan perumahan.
"Nah, ini yang harus kita lihat sebetulnya, dan ini akan menjadi salah satu tanggung jawab PT SMF," imbuhnya.
Martin menjelaskan, tantangan utama yang dihadapi perseroan saat ini berkaitan dengan kondisi likuiditas di sektor keuangan. Sebagai lembaga yang menyediakan pendanaan bagi institusi keuangan, PT SMF sangat bergantung pada dinamika perbankan.
Saat ini, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit.
"Saat ini paling tidak diperbankan, itu pertumbuhan DPK itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit," tutur dia.
Fenomena ini, katanya, dinilai wajar di tengah ketidakpastian ekonomi, di mana masyarakat cenderung meningkatkan tabungan dan menahan konsumsi maupun pembelian aset.
"Masuk akal sebetulnya. Kenapa masuk akal? Ketika kondisinya semakin tidak pasti, maka apa yang akan kita lakukan sebagai manusia adalah menyiapkan payung. Jangan-jangan nanti susah. Jangan-jangan nanti saya nggak bisa makan. Yaudah, kalau gitu saya akan menunda konsumsi saya," jelas Martin.
Kondisi tersebut tegas Martin, berdampak pada perlambatan ekspansi kredit, termasuk kredit sektor perumahan.
"Penyaluran kredit dia akan terhambat. Tapi pada saat yang sama, banyak orang yang berlomba-lomba untuk menaruh uangnya. Masuk akal nggak? Masuk akal," Martin mengakhiri.
Tinggalkan Komentar
Komentar