Periskop.id - Pasar perkantoran di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) Jakarta menunjukkan tren pemulihan yang konsisten sepanjang awal 2026. Perusahaan konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat tingkat okupansi gedung perkantoran di kawasan CBD Jakarta bertahan stabil di angka 72% pada kuartal pertama tahun ini.

Stabilnya tingkat hunian tersebut dinilai mencerminkan masih kuatnya minat perusahaan terhadap ruang kantor premium di tengah proses adaptasi pola kerja hybrid dan efisiensi bisnis pascapandemi.

“Angka permintaan pada kuartal pertama lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencerminkan kepercayaan yang berkelanjutan di pasar sewa," ujar Head of Research JLL James Taylor di Jakarta, Selasa (12/5). 

Menurut James, tidak adanya tambahan pasokan gedung baru di kawasan CBD turut membantu menjaga keseimbangan pasar. Kondisi tersebut membuat gedung-gedung eksisting tetap menjadi pilihan utama perusahaan yang ingin melakukan ekspansi maupun relokasi kantor.

Ia menjelaskan, sebagian besar aktivitas penyewa saat ini masih didominasi strategi flight to quality atau perpindahan menuju gedung dengan kualitas lebih baik, terutama bangunan Grade A yang menawarkan fasilitas modern, efisiensi energi, serta lokasi strategis.

Di sisi lain, pasar perkantoran di luar kawasan CBD atau non-CBD juga masih mencatat penyerapan positif. Kawasan TB Simatupang menjadi salah satu wilayah yang mengalami peningkatan aktivitas sewa seiring hadirnya proyek-proyek baru.

Namun, JLL mencatat sejumlah gedung lama di kawasan non-CBD masih menghadapi tekanan okupansi akibat adanya perusahaan yang mengurangi kebutuhan ruang kerja atau berpindah ke kawasan CBD.

"Sementara itu, pasar non-CBD mencatat penyerapan positif yang didorong oleh penyelesaian proyek baru di TB Simatupang, meskipun beberapa gedung eksisting mengalami tekanan okupansi akibat penyewa yang melakukan pengurangan ruang atau perpindahan ke CBD," tuturnya. 

Jasa Keuangan dan Teknologi
Sementara itu, Head of Tenant Representation JLL Panji Aziz mengungkapkan, sektor jasa keuangan dan teknologi menjadi motor utama permintaan ruang kantor di Jakarta sepanjang kuartal pertama 2026. Menurut dia, perusahaan-perusahaan dari kedua sektor tersebut masih agresif mencari ruang kerja yang lebih representatif dan efisien untuk menunjang operasional bisnis mereka.

"Salah satu tren yang berkembang pada kuartal ini adalah meningkatnya permintaan untuk ruang perkantoran yang sudah dilengkapi furnitur. Untuk memenuhi permintaan penyewa, beberapa landlord mempertahankan furnitur dari penyewa sebelumnya atau menyediakan ruangan yang sudah dilengkapi dengan furnitur baru atau kontribusi fitting out," kata Panji Aziz.

Tren ruang kantor siap pakai atau fully furnished dinilai semakin diminati karena perusahaan ingin menekan biaya renovasi dan mempercepat proses perpindahan kantor. Selain itu, fleksibilitas ruang kerja juga menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan penyewa, terutama bagi perusahaan teknologi dan startup yang masih menyesuaikan kebutuhan ruang kerja dengan perkembangan bisnis.

JLL juga mencatat harga sewa gedung Grade A di kawasan CBD mengalami kenaikan sebesar 0,95% dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan pasar yang mulai terlihat sejak 2025.

Menurut Panji, meningkatnya harga sewa menunjukkan daya tawar pemilik gedung mulai membaik seiring semakin terbatasnya pasokan ruang kantor premium di Jakarta. Kondisi tersebut juga diperkuat dengan belum adanya tambahan pasokan gedung baru dalam waktu dekat di kawasan CBD.

Data JLL sejalan dengan laporan sejumlah konsultan properti lainnya yang menyebut pasar perkantoran Jakarta mulai bergerak positif sejak akhir 2025. Konsultan properti Colliers Indonesia sebelumnya juga mencatat tren kenaikan permintaan ruang kantor premium, terutama dari sektor keuangan, teknologi, hukum, hingga perusahaan multinasional.

Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga di kisaran 5% turut menjadi faktor pendorong meningkatnya aktivitas bisnis dan kebutuhan ruang kerja di Jakarta.