periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mewanti-wanti terhadap sejumlah proyeksi pesimistis yang disampaikan sebagian ekonom terkait kondisi ekonomi Indonesia. Ia menegaskan tidak keberatan terhadap kritik, namun mengingatkan agar analisis yang disampaikan kepada publik tetap berbasis data serta menggunakan asumsi yang realistis.
"Saya nggak anti kritik. Nggak apa-apa. Tapi jangan bilang begini, 2 bulan lagi ekonomi Indonesia akan hancur. Akan resesi," kata Purbaya kepada media, dikutip Kamis (26/3).
Purbaya menilai, sejumlah prediksi yang terlalu ekstrem seringkali menggunakan asumsi yang tidak masuk akal, seperti lonjakan harga minyak dunia hingga US$200 per barel. Menurutnya, kondisi tersebut justru akan berdampak global, bukan hanya pada Indonesia.
"Harga minyak 200 dolar per barrel, semua dunia resesi. Tenang aja. Nggak usah pusing. Jadi asumsinya, nggak masuk akal," tegas dia.
Ia menekankan bahwa dalam menyusun proyeksi ekonomi, seharusnya digunakan pendekatan yang terukur, seperti data historis dan tren yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Jadi itu bukan ekonomi yang betul. Mereka akan desain sepanjang tahun, selama ini paling tinggi berapa sih? Harga minyak dunia. Baru kita taruh di situ. Kalau di sini seperti apa? Angka-angka itu bisa ditaruh berapa aja. Tapi kalau ekonomi yang betul, dia akan taruh angka berdasarkan estimasi yang clear," paparnya.
Lebih lanjut, Purbaya juga mencontohkan bahwa bahkan negara besar seperti Amerika Serikat akan menghadapi tekanan jika harga energi melonjak tajam, sehingga analisis perlu mempertimbangkan dampak global secara menyeluruh
"Coba anda lihat. Sekarang aja Amerika udah kelabakan kan? 100 dolar aja di sana BBM-nya naik hampir 100 persen. Rakyatnya mulai marah. Makanya si Trump langkahnya agak berbeda kan? Bisa sampai 150? Jatuh Trump udah. Bukan kita yang jatuh sana," jelas Purbaya.
Menurutnya, pemerintah tetap berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui berbagai kebijakan yang terukur, sehingga masyarakat tidak perlu terpengaruh oleh proyeksi yang berlebihan.
"Kalau kita masih bisa jaga di sini. Jadi itu hitungannya. Kalau ekonomi itu seperti itu. Jangan asbun. Kalau nggak ngerti, sekolah lagi itu," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar