RI Catat Surplus 70 Bulan Beruntun, Neraca Perdagangan Tembus US$1,27 Miliar
Neraca perdagangan RI Februari 2026 surplus US$1,27 miliar, memperpanjang tren surplus 70 bulan sejak Mei 2020.

periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar US$1,27 miliar. Capaian ini memperpanjang tren surplus menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
"Indonesia telah mencatat surplus Selama 70 bulan berturut-turut, yaitu sejak bulan Mei tahun 2020 Surplus," ucap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers, Rabu (1/4).
Ateng menyampaikan surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja positif sektor non-migas sebesar US$2,19 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus non-migas antara lain lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sementara itu, neraca perdagangan migas masih mencatat defisit sebesar US$0,92 miliar, yang berasal dari komoditas minyak mentah, hasil minyak, dan gas.
"Neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit sebesar US$0,92 miliar," kata dia.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari–Februari 2026 mencatat surplus sebesar US$2,23 miliar. Surplus ini ditopang oleh kinerja non-migas yang mencapai US$5,42 miliar, meskipun sektor migas mengalami defisit sebesar US$3,19 miliar.
Berdasarkan negara mitra dagang, tiga penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$3,11 miliar, India US$2,29 miliar, dan Filipina US$1,54 miliar.
Di sisi lain, defisit terdalam berasal dari Tiongkok sebesar US$4,99 miliar, diikuti Australia sebesar US$1,69 miliar, dan Singapura sebesar US$1,48 miliar.
Untuk kelompok non-migas, surplus terbesar juga berasal dari Amerika Serikat sebesar US$3,53 miliar, India US$2,33 miliar, dan Filipina US$1,50 miliar. Sedangkan defisit non-migas terdalam berasal dari Tiongkok sebesar US$5,23 miliar, Australia US$1,58 miliar, dan Singapura US$0,80 miliar.
Secara komoditas, surplus terbesar pada periode Januari–Februari 2026 berasal dari lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$6,49 miliar, bahan bakar mineral sebesar US$4,01 miliar, serta besi dan baja sebesar US$2,7 miliar.
Adapun defisit terbesar berasal dari mesin dan peralatan mekanik sebesar US$5,27 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik sebesar US$2,67 miliar, serta plastik dan barang dari plastik sebesar US$1,39 miliar.
"Sementara itu defisit utama terutama berasal dari komoditi mesin dan peralatan mekanik atau HS84, mesin dan perlengkapan elektrik atau HS85, serta plastik dan barang plastik," tutup Ateng.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan, dan surplus perdagangan dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.