periskop.id – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Telisa Aulia Falianty memproyeksikan dampak pelemahan rupiah berpotensi mulai tercermin pada hasil perhitungan inflasi bulan Mei ini. Pengumuman resmi data tersebut akan dirilis awal Juni mendatang.

 

“Imported inflation akibat pelemahan rupiah dapat mulai dirasakan di Mei. Kelompok pengeluaran paling terdampak adalah terkait komponen tinggi impor,” kata Telisa Aulia Falianty dikutip dari ANTARA, Senin (18/5).

 

Kenaikan harga barang impor ini berpotensi menyasar sejumlah komoditas utama. Sektor farmasi hingga teknologi menjadi lini paling rentan.

 

Komoditas paling terdampak tersebut antara lain obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, peralatan berat, hingga telekomunikasi.

 

Tanda-tanda pengaruh penurunan kurs mata uang terhadap inflasi nasional sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Fenomena ini terdeteksi melalui tren peningkatan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB).

 

Rupiah tercatat terus mengalami penurunan nilai sejak awal tahun. Mata uang Garuda sudah melemah 5,99 persen terhadap dolar AS dalam tahun kalender ini.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) merekam pergerakan naik IHPB setiap bulan. Indeks melonjak dari posisi 106,00 pada Januari menjadi 109,07 pada April.

 

Catatan pada April lalu menunjukkan kenaikan IHPB sebesar 3,81 persen secara tahunan. Tren ini menjadi alarm bagi stabilitas harga di tingkat konsumen.

 

“Biasanya, Indeks Harga Perdagangan Besar akan memengaruhi inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen),” ucap Telisa.

 

Pemerintah diminta segera melakukan upaya mitigasi strategis. Langkah cepat diperlukan agar efek depresiasi mata uang tidak menekan inflasi nasional terlalu dalam.

 

Efisiensi biaya logistik menjadi salah satu solusi alternatif yang didorong. Langkah ini dapat membantu pengusaha mengendalikan efek kenaikan harga produksi akibat mahalnya bahan baku impor.

 

Para produsen juga perlu mendapat imbauan khusus dalam menentukan kebijakan harga. Penyesuaian tarif harus tetap berada dalam tingkat wajar agar tidak memberatkan daya beli masyarakat.

 

Diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi internasional menjadi opsi penyelamatan lain. Pengurangan ketergantungan pada dolar AS dapat dilakukan melalui pemanfaatan mata uang lokal dan mata uang nondolar.

 

Strategi ini dinilai efektif memangkas tingginya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Stabilitas nilai tukar diharapkan bisa kembali tercapai melalui kebijakan ini.

 

“Karena kalau rupiah stabil, imported inflation dapat dikendalikan,” ujar Telisa.

Kondisi pasar uang pada penutupan perdagangan Senin menunjukkan tekanan yang masih kuat. Rupiah terkoreksi ke posisi Rp17.668 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.

 

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan tren serupa. Nilai bergerak melemah ke level Rp17.666 per dolar AS dari posisi hari lalu sebesar Rp17.496 per dolar AS.