Periskop.id - Angka kematian bayi di DKI Jakarta menunjukkan tren membaik. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025 mencatat infant mortality rate (IMR) di ibu kota turun menjadi 9,26 per 1.000 kelahiran hidup, lebih rendah dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010 yang mencapai 10,38.
"Dibandingkan dengan Sensus Penduduk tahun 2010, IMR Supas 2025 turun hampir setengahnya, mencerminkan semakin baiknya peluang bayi hidup di tahun pertama kehidupan," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta Kadarmanto dalam keterangannya, Rabu (6/5).
Penurunan ini menandakan peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak, termasuk akses terhadap fasilitas medis, tenaga kesehatan, serta program intervensi pemerintah di sektor kesehatan.
Jika dibandingkan secara nasional, capaian Jakarta tergolong lebih baik. BPS mencatat rata-rata angka kematian bayi di Indonesia masih berada di angka 14,12 per 1.000 kelahiran hidup. Artinya, risiko kematian bayi di Jakarta relatif lebih rendah dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.
Secara wilayah, angka IMR terendah tercatat di Jakarta Pusat sebesar 8,74, disusul Jakarta Selatan 9,13. Sementara wilayah dengan angka tertinggi berada di Kepulauan Seribu sebesar 10,63.
Angka Kelahiran Menurun
Selain penurunan kematian bayi, Jakarta juga mencatat tren penurunan angka kelahiran. Total fertility rate (TFR) pada 2025 berada di angka 1,79, di bawah batas ideal penggantian populasi atau replacement level sebesar 2,10.
Menurut BPS, penurunan ini terutama terjadi pada kelompok usia muda. "Hal ini terutama didorong oleh tingkat kelahiran pada perempuan di kelompok umur 15-19 dan 20-24 yang menurun signifikan. Sementara, pada kelompok umur yang lain menunjukkan angka yang stagnan," ungkap Kadarmanto.
Secara wilayah, Jakarta Pusat mencatat TFR terendah sebesar 1,59, sementara Kepulauan Seribu menjadi satu-satunya wilayah yang masih berada di atas angka replacement level dengan 2,14.
Penurunan angka kematian bayi, secara umum menjadi indikator penting dalam mengukur kualitas hidup masyarakat, terutama terkait akses kesehatan, gizi, dan sanitasi. Data Kementerian Kesehatan RI sebelumnya juga menunjukkan bahwa peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap, layanan persalinan di fasilitas kesehatan, serta program penurunan stunting berkontribusi signifikan terhadap penurunan kematian bayi.
Meski demikian, BPS menekankan pentingnya menjaga keseimbangan pertumbuhan penduduk di tengah tren penurunan angka kelahiran. Dengan kombinasi angka kematian bayi yang menurun dan tingkat kelahiran yang rendah, Jakarta menghadapi tantangan baru dalam menjaga struktur demografi tetap produktif di masa depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar