Periskop.id - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mendorong percepatan pemanfaatan Aspal Buton (Asbuton), untuk mendukung swasembada aspal nasional. Ia mengatakan, kebutuhan aspal nasional saat ini mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton pada tahun-tahun mendatang.

“Namun demikian, hampir 80% masih bergantung pada aspal yang berbasis pada minyak bumi yang kita impor,” kata Dody dalam diskusi dengan media di Jakarta, Kamis (2/4). 

Ia menjelaskan, dinamika geopolitik global, termasuk di kawasan Timur Tengah, telah memicu fluktuasi harga energi dan berdampak pada sektor infrastruktur.

“Situasi ini mendorong harga minyak menjadi berfluktuasi semakin tinggi dan berimbas langsung kepada sektor infrastruktur kita, khususnya pada material strategis seperti aspal,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan ketergantungan terhadap impor material, menjadi risiko dalam pembangunan nasional. Ia menuturkan Indonesia memiliki cadangan Asbuton yang besar di Pulau Buton, namun pemanfaatannya masih terbatas.

Saat ini, penggunaan Asbuton baru sekitar 4 % dari total kebutuhan nasional.

Untuk itu, Kementerian PU menargetkan peningkatan pemanfaatan Asbuton dalam konstruksi jalan nasional hingga minimal 30 %.

“Ini adalah sebuah peluang bagi kita untuk ke depan bisa makin berdiri sendiri di atas kaki kita sendiri,” tuturnya.

Selain memperkuat kemandirian, Dody menilai kebijakan tersebut juga memberikan manfaat ekonomi. Ia menyebutkan pemanfaatan Asbuton berpotensi menghemat devisa negara hingga sekitar Rp4 triliun serta meningkatkan penerimaan pajak sekitar Rp2 triliun.

“Potensi penghematan devisa negara akan mencapai sekitar Rp4 triliun, dan dengan penambahan penerimaan pajak sekitar hampir Rp2 triliun,” ungkapnya. 

Ia menambahkan, pengembangan industri Asbuton juga dapat menciptakan nilai tambah ekonomi hingga sekitar Rp23 triliun. Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap dapat memperkuat industri dalam negeri sekaligus menjaga ketahanan pasokan material konstruksi.

 

Untuk sdiketahui, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sejartinya sudah meluncurkan peta jalan hilirisasi aspal buton guna mendorong pengembangan infrastruktur dalam negeri, sekaligus melakukan substitusi impor.

Peta jalan hilirisasi aspal buton ini memiliki visi besar, yaitu menjadikan industri tersebut sebagai pemasok utama aspal nasional pada 2030. Terdapat tiga misi utama yang dicanangkan, yaitu meningkatkan utilisasi industri aspal buton yang berkualitas, mendorong pertumbuhan industri aspal murni, dan menciptakan ekosistem industri yang berbasis hijau.

Melalui langkah-langkah ini, pemerintah menargetkan peningkatan penggunaan aspal buton hingga 90% dari kebutuhan nasional. Termasuk mengembangkan dua industri pengolahan aspal murni, dan melakukan sertifikasi 10 pabrik dengan standar industri hijau pada 2030.

Saat ini terdapat 37 pabrik pengolahan aspal buton yang tersebar di seluruh Indonesia dan memproduksi berbagai jenis produk seperti B5/20, B50/30, pracampur, dan aspal murni. Namun, pada periode 2019-2023, rata-rata penggunaan aspal buton dalam proyek nasional hanya mencapai 5 persen, sedangkan kebutuhan aspal lainnya sebagian besar masih dipenuhi melalui impor.