periskop.id - CIMB Group Holdings, bank terbesar kedua di Malaysia, justru melihat peluang investasi di Indonesia di tengah merosotnya kepercayaan investor asing. Bank yang mengoperasikan CIMB Niaga di Indonesia ini bahkan tengah mempertimbangkan sejumlah langkah akuisisi aset.

CEO CIMB Group Holdings Novan Amirudin memaparkan, tekanan yang tengah dialami Indonesia justru menciptakan momen menarik bagi investor yang berorientasi jangka panjang. Pandangannya itu disampaikan meski rupiah dan bursa saham domestik sedang tertekan cukup dalam.

Advertisement

"Bagi investor yang melihat potensi jangka panjang di Indonesia, tentu ini adalah waktu yang tepat untuk masuk," ujar Novan dalam wawancara Bloomberg TV, Rabu (10/6).

Optimisme Novan muncul di tengah sejumlah tekanan yang menghantam pasar Indonesia. Kepercayaan investor asing disebut surut karena kekhawatiran atas arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai semakin populis dan intervensionis.

Situasi makin berat ketika konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan biaya subsidi energi. Kondisi itu berpotensi menggerus ketahanan fiskal negara lebih jauh.

Di pasar keuangan, rupiah tercatat melemah lebih dari 8% sejak awal tahun hingga Selasa (9/6). Pelemahan itu menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi hingga 35% sepanjang tahun ini, meski dalam dua hari terakhir sudah kembali menguat. Koreksi tajam tersebut dinilai membuat valuasi saham domestik semakin terjangkau untuk dibeli.

Bertolak dari kondisi itulah, CIMB sedang menimbang langkah merger and acquisition (M&A) atas sejumlah aset. Langkah tersebut disiapkan untuk melengkapi lini bisnis perbankan yang sudah ada, termasuk di segmen wealth management.

"Kami juga mungkin akan mempertimbangkan bidang-bidang khusus tertentu yang saat ini belum kami miliki," tambah Novan.

Bank besar Malaysia lainnya, Malayan Banking Bhd. (Maybank), juga menaruh harapan serupa pada pasar Indonesia. CEO Maybank Khairussaleh Ramli menuturkan, operasional di Indonesia akan menjadi salah satu kontributor penting bagi pertumbuhan perbankan dalam jangka menengah hingga panjang.

Khairussaleh mengakui, perekonomian Indonesia masih berada dalam jalur pertumbuhan. Namun, ia tidak memungkiri adanya sejumlah tantangan nyata yang harus dihadapi di lapangan.

"Kami masih dapat melayani pelanggan kami di sana, tetapi, Anda tahu, memahami tantangan yang sedang dihadapi," pungkas Khairussaleh dalam wawancara terpisah.