Periskop.id - Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga melewati angka Rp18.000 per dolar AS pada hari Kamis (4/6), mulai memukul telak para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tanah air.
Sektor usaha makanan yang bergantung pada bahan baku berkualitas tinggi menjadi salah satu yang paling awal merasakan dampak negatif dari fluktuasi mata uang asing ini. Kondisi sulit tersebut diakui langsung oleh Nurul, seorang pengusaha perempuan yang mengelola bisnis bakery rumahan dengan merek Cevelle Bakes.
Nurul mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi akibat melemahnya mata uang garuda ini sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak dua bulan terakhir. Kenaikan harga barang-barang di pasar global otomatis membuat biaya produksi yang harus ditanggung oleh usahanya melonjak tajam tanpa bisa dihindari.
“Jujur dampaknya udah berasa banget dari April-Mei, terutama Mei. Bahan baku yang dipake kebanyakan masih import karna kualitasnya lebih stabil. Tapi harganya gila-gilaan apalagi sejak rupiah nyentuh 17 ribu tuh harga bahan baku import rata-rata naik banget,” kata Nurul saat diwawancarai Periskop, Kamis (4/6).
Mirisnya lagi, kenaikan harga ini tidak hanya terjadi pada tingkat pembelian eceran di toko biasa. Nurul menjelaskan bahwa dirinya yang biasa mengambil stok bahan baku langsung dari pihak distributor resmi pun tetap tidak bisa mengelak dari kebijakan kenaikan tarif modal tersebut.
“Padahal gue ambil bahan baku dari distributor langsung, jadi harusnya dapet harga lebih murah dikit lah dibanding ecer, tapi nyatanya dari distributor pun harganya naik,” jelas Nurul menambahkan.
Sebagai contoh konkret, Nurul membeberkan lonjakan harga pada komoditas cream cheese yang menjadi bahan utama pembuatan kue. Pada akhir tahun lalu, harga cream cheese dari distributor masih berada di kisaran Rp130.000 sampai paling mahal Rp140.000 per kilogram.
Namun saat ini, harga di tingkat distributor sudah meroket hingga menyentuh Rp160.000, sementara harga eceran di Toko Bahan Kue (TBK) sudah melambung tinggi di angka Rp180.000 hingga Rp190.000 per kilogram.
Daya Beli Konsumen Lesu dan Penjualan Menurun
Kombinasi antara mahalnya modal produksi dan kondisi ekonomi yang tidak menentu ini pada akhirnya berdampak buruk pada angka penjualan bulanan Cevelle Bakes.
Nurul mengaku awalnya mengira bahwa penurunan omzet yang dialaminya hanyalah siklus musiman biasa yang kerap terjadi setelah momen hari raya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa ada faktor pelemahan ekonomi yang lebih besar di masyarakat.
“Dari sisi penjualan menurun sih, gue kira karena efek abis lebaran aja ni sales drop. Tapi kayaknya daya beli juga turun sih,” tutur Nurul.
Strategi Slice Cake demi Bertahan di Tengah Tipisnya Margin
Agar roda bisnis rumahan miliknya bisa tetap berputar dan tidak gulung tikar, Nurul memutar otak untuk mencari solusi alternatif. Di tengah situasi pelik ini, Cevelle Bakes mencoba mengubah strategi berjualan dengan tidak lagi berfokus pada penjualan kue utuh atau whole cake yang harganya relatif mahal bagi kantong konsumen saat ini.
“Kalo di Cevelle sendiri sekarang lagi rajin jual slice cake karena harganya jadi lebih murah dibanding whole cake langsung. Lumayan naikin sales 2 mingguan ini,” ungkap Nurul mengenai strategi bertahannya.
Langkah taktis menjual kue dalam potongan kecil ini terbukti cukup ampuh menjadi penyelamat omzet usaha dalam dua minggu terakhir.
Di sisi lain, Nurul mengakui dilema terbesar yang dihadapinya saat ini adalah masalah penentuan harga jual ke pelanggan. Ia memilih mengalah dengan memotong keuntungan demi menjaga loyalitas konsumennya.
“Dari Cevelle juga belum naikin harga produk lagi karena masih takut customer pada cabut ... jadi marginnya cukup tipis sekarang,” jelasnya.
Rencana Ekspansi dan Rekrutmen Karyawan Terpaksa Ditunda
Dampak buruk dari merosotnya nilai rupiah ini ternyata tidak hanya berhenti pada masalah operasional dan keuntungan semata, melainkan juga berimbas pada penyerapan tenaga kerja baru di sektor UMKM.
Rencana awal Cevelle Bakes untuk melakukan ekspansi bisnis dan menambah tim kerja selepas hari raya terpaksa harus masuk kotak pembekuan sementara waktu.
“Justru plan abis Lebaran harusnya udah hire beberapa karyawan tapi liat sales yang drop banget gini gue pending untuk hire tambahan orang,” pungkas Nurul.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar