Periskop.id – Kinerja ekonomi DKI Jakarta menunjukkan tren positif di awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi ibu kota mencapai 5,59% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini sedikit dibawah pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,61%.
Pertumbuhan di Jakarta ini ditopang kuat oleh sektor perdagangan besar dan eceran. Termasuk reparasi mobil dan sepeda motor yang menjadi kontributor utama dalam struktur ekonomi Jakarta.
"Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran memberikan kontribusi ekonomi DKI Jakarta yang paling besar, menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yang memberikan kontribusi sebesar 1,06%," kata Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto di Jakarta, Selasa (5/5).
Selain sektor perdagangan, pertumbuhan ekonomi Jakarta juga didorong sektor informasi dan komunikasi dengan kontribusi sebesar 0,88%, serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 0,56%.
Dari sisi pertumbuhan sektoral, industri akomodasi dan makanan-minuman mencatat lonjakan tertinggi mencapai 10,84%. Peningkatan ini dipicu oleh melonjaknya kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta meningkatnya aktivitas konsumsi di restoran dan tempat hiburan.
Tak hanya itu, sektor jasa lainnya tumbuh 8,37%, sementara sektor transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan sebesar 8,31% secara tahunan.
"Pertumbuhan lapangan usaha transportasi dan pergudangan ini tercermin dari kenaikan jumlah penumpang pada angkutan rel, angkutan darat angkutan laut dan juga ASDP yang meningkat," tuturnya.
Peningkatan mobilitas masyarakat juga terlihat dari naiknya volume lalu lintas di jalan tol serta distribusi barang melalui jalur laut. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Jakarta dengan kontribusi sebesar 3,32%. Disusul oleh pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 1,68% dan konsumsi pemerintah sebesar 0,47%.
Pertumbuhan Nasional
Secara nasional, BPS juga mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% (yoy) pada kuartal I-2026. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga yang menyumbang 2,94% terhadap total pertumbuhan.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, peningkatan konsumsi masyarakat dipicu oleh momentum libur panjang dan hari besar keagamaan. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 juga ditopang komponen PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) dengan pertumbuhan sebesar 1,79%, sementara Konsumsi pemerintah memberikan sumber pertumbuhan 1,26%,” ujarnya.
BPS mencatat sektor akomodasi dan makan minum secara nasional tumbuh lebih tinggi lagi, yakni 13,14%, seiring meningkatnya aktivitas wisata dan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan nasional tumbuh 8,04%, sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat selama periode libur.
Data BPS DKI Jakarta juga menunjukkan tren peningkatan kunjungan wisatawan nusantara ke ibu kota mencapai 8,62 juta perjalanan pada Maret 2026, naik 15,54% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini memperkuat peran sektor pariwisata sebagai pendorong ekonomi Jakarta.
Dengan kombinasi konsumsi domestik yang kuat, peningkatan mobilitas, serta geliat sektor jasa dan pariwisata, Jakarta dinilai masih menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. Ke depan, tantangan yang dihadapi antara lain menjaga stabilitas inflasi, memperkuat investasi, serta memastikan pertumbuhan yang inklusif di tengah tingginya biaya hidup di ibu kota.
Tinggalkan Komentar
Komentar