Periskop.id - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mulai mempercepat langkah perampingan bisnis setelah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) meminta jumlah anak usaha Telkom dipangkas secara signifikan. Pada tahap awal, sebanyak 10 anak perusahaan ditargetkan ditutup pada Juni 2026, sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran grup Telkom.

Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari agenda transformasi perusahaan untuk memperkuat fokus bisnis inti dan memperbaiki tata kelola perusahaan.

"Akhir Juni ini kita diminta menutup 10 anak perusahaan. Dan, insya Allah kita komit bisa menutup 10 anak perusahaan, jadi dari 67 (anak perusahaan) itu, (pemangkasan) 10 (di antaranya) terjadi di akhir bulan Juni, bulan depan," kata Seno di Jakarta, Rabu (20/5). 

Menurut dia, Telkom saat ini tengah melakukan evaluasi mendalam terhadap struktur bisnis anak usaha, terutama perusahaan yang memiliki lini bisnis serupa atau saling tumpang tindih.

"Memang secara bisnis kita juga sudah melakukan pertimbangan, kita melakukan analisa bahwa streamlining (perampingan) ini, terutama yang overlap, yang bisnis-bisnisnya berada di (bidang yang) sama. Itu salah satu yang akan kita watch," jelasnya.

Selain melihat potensi overlap bisnis, Telkom juga mengevaluasi performa anak usaha yang dinilai kurang optimal dalam dua tahun terakhir. Namun, Seno belum mengungkap daftar perusahaan yang akan ditutup karena masih mempertimbangkan sensitivitas bisnis dan proses tata kelola internal.

"Menurut saya nanti (diumumkan). Karena kita ada beberapa pendekatan dan pertimbangan sensitivitas. Tapi (informasi lebih lanjut) bisa disampaikan nanti," ujar Seno.

Secara keseluruhan, Danantara disebut meminta Telkom memangkas jumlah anak usaha dari sekitar 67 entitas menjadi hanya 22 perusahaan. Proses tersebut dilakukan bertahap agar restrukturisasi berjalan sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

"Kita mesti memastikan governance process-nya betul, hipotesanya dan tahapannya semuanya betul," serunya. 

Terlalu Gemuk
Langkah efisiensi ini muncul di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat kinerja badan usaha milik negara (BUMN), termasuk menyederhanakan struktur perusahaan yang dinilai terlalu gemuk dan tidak efisien.

Danantara sendiri dibentuk pemerintah sebagai sovereign wealth fund Indonesia yang bertugas mengelola aset strategis negara sekaligus meningkatkan nilai investasi nasional. Dalam beberapa bulan terakhir, Danantara mulai mendorong transformasi besar di sejumlah BUMN, termasuk konsolidasi bisnis dan efisiensi operasional.

Di sektor telekomunikasi, Telkom saat ini memiliki berbagai anak usaha yang bergerak di bidang infrastruktur digital, pusat data, cloud, layanan enterprise, media digital, hingga teknologi finansial. Restrukturisasi dinilai penting agar perusahaan lebih fokus pada bisnis digital bernilai tinggi di tengah persaingan industri telekomunikasi dan teknologi yang semakin ketat.

Seno menegaskan, perampingan tersebut bukan sekadar pengurangan jumlah perusahaan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi Telkom sebagai strategic holding. Selain itu, Telkom juga tengah melakukan penataan portofolio bisnis, agar dapat menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola perusahaan.

Sejalan dengan itu, Telkom juga memperkuat peran perusahaan sebagai induk usaha strategis (strategic holding). Sementara, operasional bisnis dijalankan oleh entitas operating company yang menjadi penggerak utama pada masing-masing lini usaha.

Langkah restrukturisasi BUMN sebelumnya juga dilakukan di sejumlah perusahaan pelat merah lain melalui merger, konsolidasi, hingga penutupan entitas yang dianggap tidak lagi produktif. Pemerintah berharap efisiensi tersebut dapat meningkatkan daya saing perusahaan negara sekaligus memperkuat kontribusi terhadap perekonomian nasional.