Periskop.id - Rencana pemerintah menyusun pola perjalanan khusus wisata belanja dinilai perlu dilakukan secara lebih mendalam. Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia atau ICPI menilai pemetaan wisata belanja tidak cukup hanya menunjuk pusat perbelanjaan, pasar, atau kawasan ritel, tetapi harus berangkat dari minat, hobi, kebutuhan, dan perilaku wisatawan.
Ketua Umum ICPI Azril Azhari mengatakan, pola pariwisata dunia telah berubah. Wisatawan kini tidak lagi hanya mencari destinasi populer, tetapi pengalaman yang lebih personal, spesifik, dan sesuai dengan minat masing-masing.
"Sejak tahun 2023 itu sudah terjadi pergeseran dari quality tourism ke customized tourism. Customized tourism paradigma pariwisata bergeser itu mengarah kepada yang saya sebut dengan lebih kepada secara mikro itu disebut special interest tourism," kata Ketua Umum ICPI Azril Azhari seperti dilansir Antara di Jakarta, Jumat (12/6).
Menurut Azril, perubahan itu membuat wisata belanja harus diperlakukan sebagai bagian dari wisata minat khusus. Artinya, wisatawan datang bukan sekadar untuk membeli barang, tetapi mencari pengalaman yang sesuai dengan identitas, gaya hidup, hobi, atau kebutuhan tertentu.
Ia mencontohkan, minat wisatawan bisa berkembang ke berbagai segmen tematik, mulai dari wisata kesehatan, wisata lansia, wisata olahraga, wisata alam, hingga wisata belanja. Dalam konteks wisata belanja, cakupannya sangat luas karena dapat menyentuh fesyen, kuliner, kriya, produk budaya, hingga barang kebutuhan sehari-hari.
Azril menilai, pemerintah perlu membaca secara rinci karakter wisatawan dari tiap negara atau pasar. Wisatawan Malaysia, misalnya, memiliki kecenderungan mengunjungi Tanah Abang atau Thamrin City untuk membeli baju koko, sarung, dan produk fesyen muslim dengan beragam motif. Sementara wisatawan Singapura sering memanfaatkan pelemahan rupiah untuk membeli kebutuhan bulanan di Batam karena jaraknya dekat dari negara asal.
Preferensi Berbeda
Menurut dia, pola tersebut menunjukkan, wisata belanja tidak bisa dirancang secara seragam. Setiap pasar wisatawan memiliki preferensi berbeda, baik dari sisi produk, harga, akses, durasi tinggal, maupun kebiasaan berbelanja.
Azril juga menekankan pentingnya memahami perilaku wisatawan setelah berbelanja. Ia mencontohkan wisatawan Singapura yang datang ke Batam bisa saja membeli koper di lokasi untuk menampung barang belanjaan, kemudian langsung kembali ke negara asal karena aksesnya dekat. Perilaku itu berbeda dari wisatawan Australia yang cenderung tinggal lebih lama di suatu destinasi untuk menikmati ombak dan berselancar, seperti di Kepulauan Mentawai.
Dari sisi kuliner, wisatawan Singapura dan Malaysia disebut memiliki ketertarikan terhadap makanan bercita rasa rempah yang autentik. Pengalaman semacam itu dapat ditemukan di daerah seperti Bangka, yang memiliki kekayaan kuliner lokal dengan karakter rasa kuat.
"Jadi kalau dibilang wisata belanja, wisatawan lalu tidak pergi ke gunung. Special interest tourism itu spesial, dia spesifik pada hobi, pada gairah, tidak umum. Jadi wisatawan akan lama di suatu tempat, dan dia memperdalam pengalaman," kata dia.
Dengan pendekatan tersebut, wisata belanja tidak lagi dilihat sebagai aktivitas tambahan setelah wisatawan mengunjungi destinasi utama. Sebaliknya, belanja bisa menjadi alasan utama wisatawan datang, tinggal lebih lama, dan menghabiskan lebih banyak uang di suatu daerah.
Pandangan ICPI ini muncul setelah Kementerian Pariwisata menyampaikan rencana penyusunan pola perjalanan khusus wisata belanja di berbagai daerah. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa sebelumnya mengatakan, pola perjalanan itu disiapkan untuk memperkuat daya tarik pariwisata dan meningkatkan pengeluaran wisatawan selama berada di Indonesia.
“Wisata belanja ini sangat baik untuk meningkatkan pergerakan wisatawan. Harapannya spending wisatawan dapat meningkat sehingga berdampak pada perekonomian nasional,” kata Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa.
Kemenpar menyusun pola perjalanan tersebut bersama pelaku industri ritel. Tujuannya agar wisatawan lebih mudah menemukan pusat belanja dan produk unggulan khas daerah, mulai dari fesyen, kuliner, kerajinan, hingga produk kreatif lokal.
Kajian Zonasi
Namun, Azril mengingatkan, pengembangan wisata belanja harus dilengkapi dengan kajian zonasi. Pemerintah perlu mengevaluasi daerah mana yang paling siap dikembangkan sebagai destinasi wisata belanja, sekaligus menghitung efek penggandanya bagi pariwisata dan ekonomi lokal.
Menurut dia, hal pertama yang harus diperhatikan adalah hospitality atau keramahan layanan. Aspek ini mencakup akomodasi seperti hotel, vila, dan homestay, serta dukungan bisnis makanan dan minuman, hiburan, dan layanan pendukung lain.
Ia menilai wisata belanja akan lebih kuat jika digabungkan dengan unsur hiburan atau pengalaman. Konsep ini dikenal sebagai retailtainment, yakni penggabungan antara ritel dan hiburan agar aktivitas belanja terasa lebih menarik dan interaktif.
"Dari sisi hiburan itu tidak hanya tontonan saja, tapi bisa melibatkan pengunjung. Ada yang namanya retailtainment, jadi ritel dan hiburan, bisa disediakan jalanan bagus, orang-orang gelar fashion week di situ, nanti yang tertarik bisa beli bajunya di toko atau pusat perbelanjaan terdekat, dikasih diskon atau apa," tambahnya.
Dengan konsep retailtainment, kawasan belanja dapat dikembangkan menjadi ruang pengalaman. Misalnya, koridor fesyen lokal dapat dilengkapi pertunjukan jalanan, mini fashion show, diskon tematik, kuliner khas, dan aktivitas komunitas. Cara ini membuat wisatawan tidak hanya datang untuk membeli, tetapi juga berinteraksi dengan budaya lokal dan pelaku usaha setempat.
Azril juga menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur dan transportasi. Menurut dia, minat wisatawan sering kali tidak bisa berkembang maksimal karena akses belum mendukung. Ia mencontohkan wisatawan Australia yang ingin berselancar kerap menghadapi kendala membawa papan selancar karena kapasitas pesawat kecil.
Masalah transportasi semacam itu harus menjadi bagian dari pemetaan wisata minat khusus. Jika suatu daerah ingin menarik wisatawan olahraga, wisata belanja, atau wisata alam, maka akses menuju destinasi, kapasitas transportasi, konektivitas, dan layanan logistik wisatawan juga harus disiapkan.
Selain infrastruktur, pemerintah juga perlu memperkuat destinasi dan atraksi. Produk wisata belanja harus dikemas menjadi paket yang spesifik dan mudah dipilih wisatawan. Paket tersebut dapat menggabungkan pusat belanja, kuliner, kriya, atraksi budaya, aktivitas lokal, hingga pengalaman komunitas.
Azril menyebut Indonesia dapat belajar dari Thailand yang mengemas atraksi dan belanja sebagai satu kesatuan pengalaman. Ia mencontohkan pertunjukan Siam Niramit, paket wisata kuliner jalanan, aktivitas yoga di pantai, dan berbagai program lain yang dibuat sesuai minat wisatawan.
Pendekatan semacam itu membuat wisatawan tidak hanya membeli produk, tetapi juga memperoleh cerita dan pengalaman. Dalam pariwisata modern, pengalaman personal menjadi nilai tambah yang dapat membuat wisatawan tinggal lebih lama dan mengeluarkan belanja lebih besar.
"Dari seluruh hal itu, pemerintah perlu menghitung mana yang paling menonjol untuk efek pengganda tadi. Dari hasil evaluasi dihitung berapa pembagiannya, distribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kita, kalau sudah lebih dari 15 persen baru bisa dianggap itu sektor unggulan kita," ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan, wisata belanja perlu diukur secara ekonomi. Pemerintah tidak cukup hanya membuat daftar lokasi belanja, tetapi perlu menghitung kontribusinya terhadap pendapatan daerah, lapangan kerja, okupansi hotel, transportasi, kuliner, ritel, UMKM, dan produk kreatif lokal.
Wisatawan Domestik
Dari sisi pasar, peluang pengembangan wisata belanja cukup besar karena pergerakan wisatawan Indonesia terus tumbuh. Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Maret 2026 mencapai 1,09 juta kunjungan atau naik 10,50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada bulan yang sama, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 126,34 juta perjalanan atau naik 42,10% secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan, pasar wisata Indonesia tidak hanya bertumpu pada turis asing, tetapi juga pergerakan wisatawan domestik yang sangat besar. Jika wisata belanja dikemas dengan tepat, potensi belanja wisatawan nusantara juga dapat menjadi motor ekonomi bagi daerah.
Namun, agar berhasil, pemerintah perlu menghindari pendekatan yang terlalu umum. Wisatawan yang mencari fesyen muslim, kuliner rempah, kriya lokal, barang elektronik, barang kebutuhan bulanan, atau perlengkapan olahraga memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, setiap daerah harus memetakan produk unggulan dan segmen wisatawan yang paling cocok.
Jakarta, misalnya, dapat diperkuat sebagai destinasi fesyen dan pusat belanja urban. Batam dapat dikembangkan sebagai destinasi belanja lintas batas untuk wisatawan Singapura. Bangka dapat memperkuat kuliner rempah dan produk lokal. Sementara Mentawai dapat dikemas untuk wisata minat khusus berbasis surfing, dengan dukungan belanja perlengkapan, suvenir, dan pengalaman komunitas.
Dengan pemetaan yang tepat, wisata belanja dapat memberi manfaat lebih luas. UMKM bisa mendapat pasar baru, pusat belanja memperoleh peningkatan transaksi, pekerja lokal terserap, dan pemerintah daerah memperoleh tambahan aktivitas ekonomi.
Sebaliknya, jika pemetaan hanya dibuat berdasarkan daftar mal atau pasar tanpa memahami minat wisatawan, wisata belanja berisiko menjadi program administratif yang tidak menghasilkan dampak besar. Wisatawan mungkin datang, tetapi tidak tinggal lebih lama atau tidak membelanjakan uang secara signifikan.
Karena itu, ICPI mendorong pemerintah menyusun pola perjalanan wisata belanja berbasis data dan perilaku wisatawan. Pendekatan ini dinilai lebih relevan dengan tren customized tourism, ketika wisatawan mencari pengalaman yang personal, imersif, dan sesuai minat khusus.
Pada akhirnya, keberhasilan wisata belanja akan ditentukan oleh kemampuan daerah membaca apa yang benar-benar dicari wisatawan. Pusat belanja, pasar, UMKM, kuliner, kriya, transportasi, hiburan, dan keramahan layanan harus terhubung dalam satu pengalaman yang utuh. Dengan cara itu, wisata belanja tidak hanya menjadi agenda belanja, tetapi juga penggerak ekonomi lokal yang nyata.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar