periskop.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani meminta perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) meningkatkan efisiensi serta produktivitas.
Langkah tersebut mendesak dilakukan di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate).
Menurutnya, strategi tersebut sangat diperlukan agar penyaluran kredit kepada masyarakat dan dunia usaha tidak terganggu.
Ia menilai sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus tetap mendapat kucuran modal meski biaya dana perbankan berpotensi melonjak.
"Yang paling penting tadi juga disampaikan adalah bagaimana perbankan ini selalu meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya," kata Rosan kepada wartawan usai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan pimpinan bank-bank Himbara di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/6).
Rosan memaparkan bahwa kondisi industri perbankan nasional saat ini sebetulnya masih cukup kokoh.
Ia mencatat pertumbuhan kredit perbankan dalam setahun terakhir mampu bertahan di kisaran 15%.
Di sisi lain, likuiditas dan dana pihak ketiga (DPK) disebutnya tetap tumbuh positif di level dua digit.
Kualitas aset perbankan nasional juga dinilai tetap sehat di samping pertumbuhan kredit yang kuat tersebut.
Rosan mencontohkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) milik Bank Mandiri kini berada di level sekitar 0,9%.
"Average NPL atau non-performing loan Bank Himbara itu antara 0,9 sampai 1,8 persen pada saat ini," ungkapnya.
Melalui kondisi fundamental yang kuat, ia meyakini perbankan masih punya ruang untuk menjalankan fungsi intermediasi. Perbankan juga disebutnya tetap mampu menyokong pembiayaan sektor produktif walau suku bunga acuan mendaki.
Rosan menegaskan bahwa efisiensi internal perbankan harus terus dipacu secara konsisten. Upaya ini dinilai efektif mencegah kenaikan BI-Rate mengganggu akses permodalan masyarakat dan pelaku bisnis.
"Nah justru hal-hal itu yang mesti diperbaiki, yang mesti ditingkatkan efisiensinya sehingga walaupun ada kenaikan suku bunga tetapi lending-nya ke masyarakat, kepada dunia usaha terutama UMKM itu tetap bisa terjaga di level yang baik, di level yang sama," tutur Rosan.
Sebagai informasi, Bank Indonesia sebelumnya telah mengerek BI-Rate menjadi 5,75%. Kebijakan moneter tersebut diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan menjinakkan inflasi di tengah tingginya ketidakpastian global.
Langkah bank sentral ini turut memicu kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75% serta Lending Facility ke posisi 6,50%.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar