Periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menerima gelar Profesor Kehormatan atau Honorary Professor di bidang ekonomi dari Universitas Nankai, China. Penghargaan itu diberikan sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam mendorong kemajuan ekonomi dan keuangan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Gelar tersebut diberikan langsung oleh Presiden atau Rektor Universitas Nankai Prof. Chen Yulu. Penganugerahan ini menjadi sorotan karena berlangsung setelah kunjungan resmi Purbaya ke China pada 16-19 Juni 2026 untuk memperkuat kerja sama ekonomi, keuangan, investasi, dan pembiayaan pembangunan.
Purbaya menyampaikan apresiasi atas penghargaan dari salah satu universitas terkemuka di China tersebut. Ia menilai gelar ini bukan hanya pengakuan terhadap capaian individu, tetapi juga simbol semakin eratnya hubungan Indonesia dan China, terutama di bidang ekonomi, keuangan, pendidikan, dan riset kebijakan.
"Penghargaan ini saya dedikasikan untuk seluruh rakyat Indonesia dan insan pengelola keuangan negara yang terus bekerja menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujar Menkeu.
Penghargaan Akademik di Tengah Diplomasi Ekonomi
Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan kepada Purbaya tidak berdiri sendiri. Momen ini beriringan dengan agenda diplomasi ekonomi pemerintah Indonesia di China.
Dalam surat resminya, Presiden Universitas Nankai juga mengundang Purbaya untuk menyampaikan kuliah kehormatan, berdialog dengan para peneliti dan akademisi, serta menghadiri seremoni penganugerahan gelar Profesor Kehormatan di kampus Universitas Nankai, Tianjin, China.
Purbaya berharap penghargaan tersebut dapat memperkuat hubungan akademik antara Indonesia dan China. Ia juga melihat peluang kolaborasi yang lebih luas dalam riset, pendidikan, dan kebijakan ekonomi untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif.
Bagi pemerintah, kolaborasi akademik seperti ini penting karena tantangan ekonomi global makin rumit. Pengambil kebijakan tidak cukup hanya bekerja dari sisi birokrasi, tetapi juga membutuhkan masukan dari dunia akademik, riset, dan lembaga pendidikan.
Purbaya meyakini hubungan antara kampus dan pembuat kebijakan dapat membantu negara mengambil keputusan yang lebih kuat, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global, perubahan geopolitik, risiko fiskal, transisi energi, dan kebutuhan pembiayaan pembangunan.
Nankai dan Relevansi Ekonomi
Universitas Nankai dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi bergengsi di China. Kampus yang berlokasi di Tianjin itu memiliki reputasi kuat dalam bidang ekonomi, kebijakan publik, dan keuangan.
Karena itu, pemberian gelar Profesor Kehormatan bidang ekonomi kepada Menteri Keuangan Indonesia dapat dibaca sebagai bagian dari penguatan relasi intelektual dan kebijakan antara kedua negara.
Penghargaan ini juga memperluas ruang interaksi antara Indonesia dan China di luar jalur diplomasi formal. Jika selama ini hubungan kedua negara banyak dibicarakan melalui perdagangan, investasi, proyek infrastruktur, dan pembiayaan, maka kerja sama akademik memberi lapisan tambahan dalam hubungan bilateral.
Melalui forum akademik, Indonesia dapat menjelaskan arah kebijakan ekonominya secara lebih mendalam kepada komunitas ilmiah dan pembuat kebijakan di China. Sebaliknya, akademisi dan peneliti China juga dapat menjadi mitra diskusi dalam membaca peluang kerja sama jangka panjang.
China Tetap Percaya pada Ekonomi Indonesia
Sebelum menerima gelar tersebut, Purbaya mengungkapkan bahwa kepercayaan pemerintah China terhadap Indonesia masih terjaga. Hal itu ia sampaikan setelah bertemu Menteri Keuangan China Lan Fo’an, pihak People’s Bank of China atau PBOC, Asian Infrastructure Investment Bank atau AIIB, serta investor dalam kunjungan resminya ke China.
"Pemerintah China amat 'trust' dan amat mendukung. Kalau dari diskusi dengan mereka, diskusinya menarik, amat konstruktif dan menunjukkan kepercayaan China dan kepercayaan kami ke pemerintah China juga sama, sama bagusnya," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Kamis (18/6).
Purbaya mengatakan pihak China tetap memiliki pertanyaan mengenai kondisi Indonesia, termasuk sejumlah kebijakan yang dikeluhkan pelaku usaha. Namun, ia menyebut pemerintah Indonesia dapat menjelaskan kondisi fundamental ekonomi nasional.
"Kedua negara sama-sama bersemangat untuk meningkatkan hubungan ke tingkat yang lebih dekat lagi. Meski demikian, mereka juga menyampaikan pertanyaan sebenarnya seperti apa kondisi Indonesia, tentu saya bisa jelaskan dan yakinkan, kondisi fundamental ekonomi tidak ada masalah," ungkap Purbaya.
Pernyataan itu penting karena China merupakan salah satu mitra ekonomi terbesar Indonesia. Selain menjadi mitra dagang utama, China juga menjadi salah satu sumber investasi besar di berbagai sektor, termasuk hilirisasi, infrastruktur, industri, dan energi.
Investor China Sampaikan Keluhan
Meski hubungan kedua negara disebut tetap kuat, Purbaya tidak menutup mata terhadap keluhan investor China. Ia mengakui ada sejumlah persoalan yang disampaikan pelaku usaha China terkait kebijakan dan iklim investasi di Indonesia.
"Dan itu sudah dijawab oleh Presiden Prabowo, dan Presiden Prabowo akan memperbaiki kondisi investasi supaya pemerintah dan investor China bisa berbisnis dengan wajar di Indonesia. Jadi Presiden mengerti betul hambatan yang terjadi untuk melakukan bisnis di Indonesia dan itu sedang diperbaiki," tambah Purbaya.
Ia juga menegaskan pemerintah memahami masalah yang disampaikan dan sudah melakukan tindak lanjut. "Sebenarnya kami sudah mengerti permasalahannya apa dan sudah diperbaiki, tapi kebetulan mengenai keluhan yang belum beres, mereka kirim kami. Presiden dan kami sudah tindaklanjuti dengan baik. Hanya tentu ada beberapa hal yang memerlukan waktu untuk kembali ke level yang memudahkan untuk beberapa pengusaha China, meski sebagian besar kami perbaiki dengan cepat," jelasnya.
Keluhan investor itu menjadi bagian penting dari konteks penghargaan akademik yang diterima Purbaya. Di satu sisi, China tetap menunjukkan kepercayaan terhadap Indonesia. Di sisi lain, pemerintah Indonesia masih harus memperbaiki sejumlah hambatan investasi agar kerja sama ekonomi dapat berjalan lebih lancar.
Investasi China Tetap Besar
Data yang dilaporkan ANTARA menunjukkan China tetap menjadi mitra ekonomi penting bagi Indonesia. Nilai investasi China ke Indonesia pada 2025 mencapai US$5,4 miliar, naik 13,5% dibandingkan 2024.
Pada kuartal I 2026, realisasi investasi asal China mencapai US$2,2 miliar atau meningkat 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hampir separuh investasi itu disebut mengalir ke industri hilirisasi.
China menjadi negara penyumbang investasi terbesar ketiga pada kuartal I 2026, setelah Singapura dengan investasi US$4,6 miliar dan Hong Kong sebesar US$2,7 miliar.
Angka tersebut menunjukkan, meski ada keluhan dari investor, minat China terhadap Indonesia masih tinggi. Karena itu, diplomasi ekonomi Purbaya di China menjadi penting untuk menjaga kepercayaan, membuka komunikasi, dan memperkuat kepastian kebijakan.
Purbaya juga menegaskan, Indonesia terbuka untuk investasi dari banyak negara, bukan hanya China. "Jadi semakin banyak yang investasi akan semakin bagus buat Indonesia. Kebetulan saja, China adalah salah satu sumber investasi besar yang tidak bisa kita abaikan. Hanya kan ada juga dari Amerika, Singapura, dan lain-lain. Jadi kita diversifikasi sumber investasi dan sumber pembiayaan supaya ekonomi kita tetap bisa tumbuh cepat tanpa mengubahkan prinsip non-alignment Indonesia," ujarnya.
Panda Bond Jadi Agenda Strategis
Kunjungan Purbaya ke China juga berkaitan dengan rencana penerbitan surat utang global berdenominasi yuan atau Panda Bond. Instrumen ini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperluas basis investor dan mendiversifikasi sumber pembiayaan negara.
Sebelum berangkat ke China, Purbaya telah menyampaikan rencana tersebut dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026.
“Minggu depan saya akan ke China. Tanggal 16 (Juni) ke China untuk promosi Panda Bond,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat.
Ia juga menjelaskan setelah China, dirinya akan melanjutkan lawatan ke Inggris untuk bertemu investor dan menyampaikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
“Untuk meyakinkan, bahwa memang kita menjalankan kebijakan ekonomi yang baik,” ujarnya.
Panda Bond menjadi penting karena pemerintah ingin mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber pembiayaan. Dengan menerbitkan instrumen dalam mata uang yuan, Indonesia dapat memperluas akses ke investor China dan memperkuat hubungan keuangan dengan pasar Asia.
Bank Indonesia sebelumnya juga mendorong penerbitan instrumen keuangan berdenominasi renminbi, termasuk Panda Bond dan Dim Sum Bond, untuk mendukung pendalaman pasar valuta asing domestik.
AIIB Siapkan Pendanaan US$17 Miliar
Selain agenda Panda Bond, Purbaya juga mengamankan komitmen pendanaan dari Asian Infrastructure Investment Bank. Dalam kunjungan ke Beijing, Indonesia memperoleh komitmen pendanaan senilai US$17 miliar dari AIIB untuk pembangunan nasional periode 2025-2029.
Komitmen itu menjadi salah satu capaian utama pertemuan bilateral antara pemerintah Indonesia dan jajaran pimpinan AIIB di Beijing.
“Itu merupakan kontribusi yang sangat besar bagi pembiayaan proyek-proyek pembangunan di Indonesia,” kata Purbaya.
Pendanaan tersebut merupakan bagian dari Multi-Year Rolling Pipeline yang telah dibahas bersama AIIB. Pemerintah Indonesia berupaya memastikan keberlanjutan komitmen pendanaan dari lembaga multilateral tersebut untuk mendukung agenda pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Nankai memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan China bergerak di banyak jalur sekaligus: akademik, pembiayaan, investasi, kebijakan fiskal, dan kerja sama lembaga keuangan.
Penghargaan yang Juga Bernuansa Diplomatik
Gelar Profesor Kehormatan biasanya diberikan kepada tokoh yang dianggap memiliki kontribusi besar dalam bidang tertentu. Dalam kasus Purbaya, penghargaan diberikan atas kontribusi di bidang ekonomi dan keuangan.
Namun, karena diberikan oleh universitas besar di China kepada Menteri Keuangan Indonesia, penghargaan ini juga memiliki nuansa diplomatik. Ia hadir di tengah upaya Indonesia memperluas sumber pembiayaan, menarik investasi, dan menjaga hubungan ekonomi dengan negara-negara mitra utama.
Bagi Indonesia, pengakuan akademik semacam ini dapat memperkuat kredibilitas pejabat fiskal di forum internasional. Bagi China, penghargaan tersebut mempertegas ruang dialog dengan pembuat kebijakan ekonomi Indonesia.
Hubungan akademik juga dapat menjadi jalur lunak dalam diplomasi ekonomi. Melalui kuliah kehormatan dan dialog dengan peneliti, Purbaya dapat memaparkan arah kebijakan fiskal, strategi pembiayaan, dan posisi Indonesia dalam perekonomian global.
Tantangan: Menjaga Kepercayaan dan Perbaiki Iklim Investasi
Meski sinyal kerja sama positif menguat, tantangan Indonesia tidak kecil. Pemerintah perlu menjaga kepercayaan investor China sekaligus tetap mempertahankan prinsip diversifikasi sumber investasi dan pembiayaan.
Purbaya sendiri menegaskan Indonesia tidak hanya bergantung pada China. Pemerintah tetap membuka diri terhadap investasi dari negara lain, termasuk Amerika Serikat, Singapura, dan mitra global lainnya. Prinsip ini penting agar Indonesia memiliki ruang kebijakan yang lebih luas.
Di sisi lain, keluhan investor China juga harus ditindaklanjuti secara nyata. Jika hambatan investasi, regulasi, perizinan, visa, dan kepastian hukum tidak diperbaiki, maka minat investasi dapat terganggu meski hubungan politik dan akademik terlihat kuat.
Karena itu, penghargaan dari Universitas Nankai dapat menjadi momentum simbolik. Namun, ujian sebenarnya tetap berada pada kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi, memperbaiki iklim investasi, dan memastikan pembiayaan pembangunan berjalan efektif.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar