Periskop.id - Prospek ekspor Indonesia pada paruh kedua tahun ini masih menghadapi jalan terjal. Sejumlah tantangan global diprediksi bakal menekan kinerja perdagangan internasional luar negeri tersebut.

Hal itu disampaikan Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Menurutnya, kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu sentimen negatif utama.

Yusuf mengatakan, penyesuaian pesanan dari para importir memerlukan waktu beberapa bulan hingga efeknya baru akan terasa nyata pada semester II 2026.

"Dengan kondisi tersebut, saya memperkirakan pertumbuhan ekspor pada semester kedua akan berada di kisaran nol sampai dua persen dengan risiko yang cenderung mengarah ke bawah apabila negosiasi tarif dengan Washington tidak menghasilkan pelonggaran," ujar Yusuf dikutip dari Antara, Sabtu (4/7).

Selain kebijakan proteksionisme AS, ia menyebut Indonesia dibayangi oleh risiko pengalihan pesanan ke negara kompetitor. Vietnam dan Meksiko dinilai memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi untuk menguasai pasar Amerika.

Kondisi ini diperparah oleh tekanan siklus yang sedang menghantam harga komoditas andalan tanah air. Komoditas utama seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) dilaporkan masih mengalami tren penurunan harga.

Di sisi lain, stimulus ekonomi di China berjalan lebih lambat dari perkiraan pasar. Dampak perlambatan tersebut membuat permintaan logam industri dari Negeri Tirai Bambu belum pulih sepenuhnya.

Meski diterjang banyak sentimen negatif, Yusuf melihat masih ada faktor penopang yang mampu menyelamatkan kinerja ekspor nasional. Sektor hilirisasi dinilai menjadi salah satu penyelamat di tengah lesunya pasar global.

Peluang pertumbuhan ekspor Indonesia disebut masih terbuka cukup lebar. Syaratnya, permintaan pasar global terhadap produk turunan nikel harus tetap terjaga dengan baik.

Sebelumnya, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia ke pasar China memang menunjukkan performa yang cukup solid. Konteks penguatan ini menjadi modal penting bagi stabilitas ekonomi nasional sebelum memasuki paruh kedua tahun ini.

Yusuf mencatat ekspor nonmigas Indonesia ke China sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih tumbuh 17,7% secara tahunan, sehingga menjadi bantalan terhadap pelemahan permintaan di pasar lainnya.