Periskop.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga (BI Rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan diumumkan pada hari ini, Rabu (22/7).
Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga kebijakan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei menjadi 5,75%, sambil terus melakukan intervensi valuta asing.
Hal tersebut lantaran tekanan inflasi sebagian besar masih didorong oleh sisi penawaran, dan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut mungkin memberikan dukungan yang semakin berkurang terhadap rupiah sekaligus membebani aktivitas domestik.
"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur mendatang," kata Riefky dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/7).
Riefky memaparkan tekanan inflasi meningkat pada Juni 2026, ketika inflasi umum naik menjadi 3,34% secara tahunan (year on year/yoy) dari 3,08% pada Mei 2026 dan semakin mendekati batas atas kisaran target Bank Indonesia. Kenaikan tersebut terutama terkonsentrasi pada harga bahan bakar nonsubsidi dan tarif angkutan udara, bukan mencerminkan tekanan permintaan yang meluas.
Kondisi eksternal juga melemah dengan neraca perdagangan mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, defisit pertama setelah 72 bulan berturut-turut mencatat surplus, seiring pertumbuhan impor yang terus melampaui ekspor.
Meskipun terjadi arus masuk portofolio bersih sebesar USD0,70 miliar antara pertengahan Juni 2026 dan pertengahan Juli 2026, rupiah terdepresiasi sebesar 2,09% secara bulanan (month to month/mtm) menjadi Rp18.060 per USD dan melemah 7,29% (year to date/ytd), yang menunjukkan bahwa arus masuk obligasi tidak cukup untuk mengimbangi permintaan valuta asing yang lebih kuat akibat pembayaran dividen musiman dan pembayaran utang luar negeri.
Di sisi lain, inflasi umum Indonesia mencapai 3,34% (yoy) pada Juni 2026, meningkat dari 3,08% (yoy) pada Mei 2026 dan merupakan bulan kedua berturut-turut di mana inflasi mengalami akselerasi. Angka tersebut masih berada dalam kisaran target inflasi Bank Indonesia sebesar 1,5%–3,5%, meskipun mulai mendekati batas atas kisaran tersebut.
Penyumbang terbesar inflasi umum berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,36 poin persentase, meskipun tingkat inflasi tahunannya melambat menjadi 4,67% (yoy) pada Juni 2026 dari 4,94% (yoy) pada Mei 2026.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar