Periskop.id – PT MRT Jakarta dan PT Kereta Api Indonesia mulai merancang jalur penghubung antara Stasiun MRT Monas dan Stasiun Gambir. Integrasi tersebut diharapkan memudahkan penumpang kereta antarkota berpindah ke MRT tanpa harus melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan di jalan raya.
Rencana itu menghubungkan Stasiun MRT Monas yang berada di sisi barat kawasan Monumen Nasional dengan Stasiun Gambir di sisi timur. Kedua perusahaan telah menggelar pertemuan awal, tetapi bentuk koneksi fisiknya masih dalam tahap kajian.
Direktur Konstruksi MRT Jakarta Weni Maulina mengatakan pembahasan dilakukan beriringan dengan rencana revitalisasi Stasiun Gambir oleh KAI.
“Kami sudah bertemu dengan manajemen KAI untuk menyiapkan perencanaan koneksi dari Stasiun Monas dengan Stasiun Gambir. Desain penyambungannya masih dalam tahap pengembangan,” kata Weni dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (23/7).
Belum dipastikan apakah penghubung kedua stasiun akan berbentuk terowongan bawah tanah, koridor pejalan kaki tertutup, atau fasilitas lain. MRT Jakarta dan KAI masih membahas kebutuhan teknis, aspek keselamatan, pola pergerakan penumpang, serta penyesuaiannya dengan kawasan Monas yang berstatus cagar budaya.
“Desainnya masih dalam pengembangan, jadi kami masih diskusikan dengan PT KAI juga,” ujar Weni.
Penumpang Kereta Bisa Langsung Berpindah ke MRT
Integrasi Stasiun Monas dan Gambir berpotensi memperpendek perjalanan penumpang kereta jarak jauh menuju pusat bisnis Jakarta. Dari Stasiun Monas, pengguna nantinya dapat melanjutkan perjalanan dengan MRT ke kawasan Bundaran HI, Dukuh Atas, Senayan, Blok M, hingga Lebak Bulus.
Sebaliknya, pengguna MRT dari Jakarta Selatan dapat menuju Stasiun Gambir tanpa harus berganti ke taksi, bus, atau kendaraan daring untuk mengejar keberangkatan kereta antarkota. Namun, manfaat tersebut baru dapat dirasakan setelah jalur penghubung selesai dibangun dan kedua proyek mulai beroperasi.
Stasiun Gambir tengah diarahkan menjadi pusat integrasi perkeretaapian dan angkutan publik. Revitalisasinya dilaporkan ditargetkan selesai pada 2028, setahun setelah rencana pengoperasian Stasiun MRT Monas. Pemerintah juga mengkaji kemungkinan layanan KRL berhenti di Gambir sebagai bagian dari pengembangan stasiun tersebut.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya mengatakan lokasi Gambir memungkinkan stasiun itu terhubung dengan sejumlah moda transportasi.
“Kalau (hub perkeretaapian) almost ya. Karena di situ kan nanti bisa connect dengan beberapa stasiun, moda transportasi,” ujar Dudy.
Perbedaan target waktu antara pengoperasian MRT Monas pada 2027 dan revitalisasi Gambir pada 2028 menjadi salah satu hal yang perlu diselaraskan. Pemerintah dan kedua operator juga harus memastikan desain koneksi tetap nyaman digunakan apabila pembangunan penghubung belum selesai ketika MRT Monas mulai melayani penumpang.
Progres Stasiun MRT Monas Capai 93 Persen
Stasiun Monas merupakan bagian dari paket konstruksi CP 201 MRT Jakarta Fase 2A. Paket senilai sekitar Rp4,1 triliun itu mencakup pembangunan Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, dan terowongan yang memperpanjang jalur MRT dari Bundaran HI menuju kawasan Monas.
Progres fisik CP 201 saat ini telah mencapai sekitar 92% hingga 93%. Pekerjaan telah beralih ke pemasangan sistem mekanikal dan elektrikal, penyelesaian arsitektur, interior stasiun, serta tahap akhir konstruksi.
“Untuk CP 201 ini kita sudah di angka 92% menuju 93%. Insya Allah diselesaikan di akhir tahun 2027 dan sudah beroperasi di akhir 2027,” tuturnya.
Weni memastikan nilai kontrak CP 201 masih terjaga di kisaran Rp4,1 triliun meskipun pembangunan berlangsung di tengah perubahan kondisi ekonomi global dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Setelah beroperasi, pemeliharaan Stasiun Monas dan Stasiun Thamrin akan ditangani langsung oleh MRT Jakarta di bawah koordinasi Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Pengaturan operasional dan perawatan disiapkan untuk memastikan fasilitas tetap aman dan dapat diandalkan oleh penumpang.
Integrasi Dibutuhkan Seiring Penumpang MRT Bertambah
Rencana penyambungan dengan Gambir menjadi penting seiring meningkatnya penggunaan angkutan umum berbasis rel di Jakarta. MRT Jakarta menargetkan dapat melayani hampir 50 juta penumpang sepanjang 2026, dengan rata-rata sekitar 137 ribu pengguna per hari.
Pada Mei 2026 saja, jumlah pengguna MRT mencapai sekitar 3,86 juta orang atau tumbuh 5,03% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Integrasi antarmoda diperlukan agar pertumbuhan tersebut tidak berhenti di dalam sistem MRT. Akses yang mudah menuju kereta jarak jauh, Transjakarta, KRL, LRT, dan moda lain dapat mengurangi waktu perpindahan sekaligus membuat transportasi publik lebih menarik dibandingkan kendaraan pribadi.
Meski demikian, jadwal pembangunan dan bentuk koneksi Stasiun Monas–Gambir belum ditetapkan. MRT Jakarta dan KAI masih harus menyelesaikan desain, skema pendanaan, pembagian pengelolaan, serta tahapan konstruksinya sebelum proyek dapat direalisasikan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar