Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai US$137,24 miliar, meningkat 18,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kenaikan impor terjadi baik pada komoditas migas maupun nonmigas. Nilai impor migas tercatat sebesar US$22 miliar, meningkat 38,71 persen secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas mencapai US$115,23 miliar atau naik 15,50 persen dibandingkan semester I 2025.

"Impor non-migas tercatat senilai US$115,23 miliar atau naik sebesar 15,50 persen," kata Ateng dalam konferensi pers, Jakarta, Senin (3/8).

Dari sisi penggunaan, seluruh kelompok barang impor mengalami peningkatan secara kumulatif. Kenaikan terbesar berasal dari impor bahan baku/penolong yang mencapai US$97,95 miliar, atau meningkat 18,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ateng menjelaskan, impor bahan baku/penolong menjadi kontributor utama terhadap kenaikan impor nasional dengan andil sebesar 13,15 persen. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh masuknya komoditas bahan bakar mineral (HS27), mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya (HS85), serta garam, belerang, batu, dan semen (HS25).

Berdasarkan negara asal, peningkatan nilai impor tercatat berasal dari Tiongkok, Australia, kawasan ASEAN, dan Uni Eropa. Sebaliknya, impor yang berasal dari Jepang mengalami penurunan pada periode tersebut.

Sementara itu, pada Juni 2026, nilai impor Indonesia mencapai US$25,91 miliar, meningkat 34,27 persen dibandingkan Juni 2025. Impor migas tercatat sebesar US$4,56 miliar, melonjak 105,15 persen secara tahunan. Adapun impor nonmigas mencapai US$21,35 miliar, atau meningkat 25,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pihaknya menyebut kenaikan impor pada Juni 2026 terutama ditopang oleh impor nonmigas yang memberikan andil sebesar 22,17 persen terhadap pertumbuhan impor secara tahunan.

Dilihat dari golongan penggunaan, seluruh kategori impor pada Juni 2026 juga mengalami peningkatan dibandingkan Juni tahun lalu. Nilai impor barang konsumsi naik 17,46 persen, sedangkan barang baku/penolong meningkat paling tinggi, yakni 38,94 persen, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan impor sebesar 26,94 persen. Sementara itu, impor barang modal turut meningkat 26,53 persen.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, tiga komoditas nonmigas yang paling banyak diimpor Indonesia adalah mesin dan peralatan mekanik, mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik.

"tiga komoditas utama non-migas yang diimpor Indonesia pada sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2026 yaitu mesin, peralatan mekanik, mesin perlengkapan elektrik serta plastik dan barang dari plastik," tutupnya.