periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat per Februari 2026, total nilai impor Indonesia mencapai US$20,89 miliar atau meningkat 10,85% secara tahunan (year on year/yoy). ‎Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan impor non-migas yang tumbuh signifikan.

Impor non-migas tercatat sebesar US$18,90 miliar atau meningkat 18,24% secara tahunan, dengan kontribusi terhadap kenaikan total impor mencapai 15,47%. Sementara itu, impor migas tercatat sebesar US$2 miliar.

‎"Peningkatan nilai impor secara tahunan ini terutama didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andilnya sebesar 15,47%," ucap Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4).

‎Selanjutnya adalah impor menurut penggunaan. Pada bulan Februari tahun 2026 terjadi peningkatan impor untuk seluruh golongan penggunaan secara tahunannya. Secara tahunan nilai impor barang konsumsi naik 19,84%.

‎Berdasarkan penggunaannya, seluruh kelompok impor mengalami peningkatan. Impor barang konsumsi naik 19,84%, bahan baku dan penolong meningkat 4,25%, sementara impor barang modal mencatat kenaikan tertinggi sebesar 33,68% dengan kontribusi 6,16%.

Adapun tiga komoditas utama impor non-migas sepanjang Januari–Februari 2026 meliputi mesin dan peralatan mekanik, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik. Ketiga kelompok ini menyumbang sekitar 38,23% dari total impor non-migas.

‎Secara rinci, impor mesin dan peralatan mekanik mencapai US$6,64 miliar dengan volume 0,80 juta ton. Impor mesin dan perlengkapan elektrik sebesar US$5,66 miliar dengan volume 0,39 juta ton, sementara plastik dan barang dari plastik mencapai US$1,82 miliar dengan volume 1,18 juta ton. 

‎"Untuk plastik dan barang dari plastik sebesar US%1,82 miliar dengan volumenya sebesar 1,18 juta ton," jelasnya. 

‎Berdasarkan negara asal, tiga besar pemasok impor non-migas Indonesia adalah China, Australia, dan Singapura, dengan total kontribusi mencapai 53,47%.

‎Impor non-migas dari China tercatat sebesar US$15,68 miliar, didominasi oleh mesin dan peralatan mekanik dengan porsi 23,23% dan pertumbuhan 32,37%.

‎Dari Australia, impor mencapai US$2,07 miliar yang didominasi logam mulia dan perhiasan dengan porsi 41,84% serta melonjak 646%. 

‎Sementara itu, impor dari Singapura sebesar US$2 miliar, didominasi mesin dan peralatan mekanik dengan porsi 42,33%.

‎"Impor non-migas dari Singapura tercatat 2 miliar USD terutama didominasi impor mesin peralatan mekanik atau HS84 dengan share-nya 42,33% dan tumbuh 42,33% secara situsinya," tutupnya.