periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai US$25,21 miliar atau meningkat 22,49% dibandingkan April 2025 Nilai impor migas sebesar US$4,60 miliar atau meningkat 82,52% secara tahunan.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini mengatakan nilai impor non-migas adalah senilai US$20,62 miliar dan mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 14,11% Peningkatan nilai impor secara tahunan ini didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andil peningkatan sebesar 12,39%.
"Pada April 2026, nilai impor mencapai US$25,21 miliar atau meningkat 22,49% dibandingkan April 2025 Nilai impor migas sebesar US$4,60 miliar," kata Pudji, dalam konferensi pers, Jakarta, Selasa (2/6).
Berdasarkan golongan penggunaan barang, seluruh kelompok impor mengalami peningkatan secara tahunan. Nilai impor barang konsumsi tumbuh 42,90%, sedangkan impor bahan baku dan barang penolong naik 24,56% dan menjadi kontributor utama kenaikan impor dengan andil sebesar 17,86%. Adapun impor barang modal meningkat 5,64% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sepanjang Januari hingga April 2026, tiga kelompok komoditas utama impor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh mesin atau peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik. Ketiga kelompok komoditas tersebut menyumbang sekitar 37,37% dari total impor nonmigas nasional.
"Dan nilai impor komoditas utama mengalami peningkatan baik dari sisi nilai maupun dari sisi volume dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu," tuturnya.
Nilai impor mesin atau peralatan mekanis tercatat sebesar US12,67 miliar dengan volume 1,56 juta ton. Sementara ktu impor mesin dan perlengkapan elektrik mencapai US$ 11,12 miliar dengan volume 870 ribu ton. Adapun impor plastik dan barang dari plastik tercatat sebesar US$3,71 miliar dengan volume 2,34 juta ton. Secara umum, nilai maupun volume impor ketiga kelompok komoditas tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi negara asal, tiga pemasok utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–April 2026 adalah Tiongkok, Jepang, dan Australia. Ketiganya menyumbang sekitar 53,12 persen terhadap total impor nonmigas Indonesia.
Impor nonmigas dari Tiongkok mencapai US$30,79 miliar dan didominasi oleh komoditas mesin atau peralatan mekanis (HS 84) dengan pangsa 22,49%. Nilai impor kelompok barang tersebut tumbuh 19,27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Impor nonmigas dari Tiongkok mencapai US$30,79 miliar dan didominasi oleh komoditas mesin atau peralatan mekanis dengan pangsa 22,49%. Nilai impor kelompok barang tersebut tumbuh 19,27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun impor nonmigas dari Australia mencapai US$4,15 miliar dan didominasi oleh komoditas logam mulia, perhiasan, atau permata dengan pangsa 33,54%. Nilai impor komoditas tersebut melonjak 314,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Didominasi impor logam mulia dan perhiasan atau permata HS71 dengan share 33,54% dan tumbuh 314,13% secara situsi Setelah melihat perkembangan ekspor dan impor," Pudji mengakhiri.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar