periskop.id - Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan ini, seiring proyeksi penguatan dolar Amerika Serikat dan minyak mentah di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi Ibrahim menjelaskan, indeks dolar AS berpotensi menguat dan menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan emas.

“Indeks dolar kemungkinan dalam minggu depan itu ditransaksikan di support 97.100, kemudian resistenya itu adalah 100.600. Jadi ada indikasi bahwa dolar Amerika ini akan mengalami penguatan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (11/5).

Selain itu, harga minyak mentah dunia juga diperkirakan melanjutkan tren kenaikan.

“WTI crude oil dalam minggu depan diperdagangkan di supportnya itu 90, kemudian resistenya itu di 113. Jadi ada indikasi harga minyak minggu depan itu akan menguat kembali di 113,” katanya.

Ia menyebut, kondisi tersebut akan membuat pergerakan emas cenderung dinamis. Saat ini, harga emas dunia ditutup di level US$4.616 per troy ounce, sedangkan harga logam mulia berada di Rp2.796.000 per gram.

Untuk skenario pelemahan, Ibrahim memperkirakan harga emas dapat turun hingga level US$4.389 per troy ounce. Sementara logam mulia berpotensi menyentuh Rp2.750.000 per gram.

“Kalau seandainya melemah, minggu depan logam mulia itu di 2.750.000. Itu adalah minimal,” jelasnya.

Sebaliknya, jika terjadi penguatan, harga emas diproyeksikan naik hinggaUS$ 4.851 per troy ounce, dengan harga logam mulia berpeluang mencapai Rp2.900.000 per gram.

“Kalau seandainya menguat, maksimal itu di 2.900.000 per gram,” tambah Ibrahim.

Dengan demikian, ia memperkirakan rentang pergerakan harga logam mulia berada di kisaran Rp2.750.000 hingga Rp2.900.000 per gram dalam sepekan ke depan.

Lebih lanjut, Ibrahim menilai fluktuasi harga emas tidak terlepas dari kondisi geopolitik global yang masih memanas, terutama di Timur Tengah dan Eropa Timur.

“Geopolitik pun juga masih terus memanas, baik di Eropa Timur, antara Rusia dan Ukraina, maupun di Timur Tengah,” ujarnya.

Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak juga berpotensi memicu inflasi global yang berdampak pada kebijakan suku bunga bank sentral.

“Lonjakan harga minyak yang cukup tinggi ini membuat inflasi yang cukup tinggi, sehingga ini membuat orang yang melakukan investasi di logam mulia ini sedikit terhenti,” kata Ibrahim.

Namun demikian, ia menambahkan bahwa permintaan emas dari bank sentral tetap kuat, terutama saat harga mengalami koreksi.

“Kita melihat bahwa pada saat harga emas mengalami penurunan, ini dimanfaatkan oleh Bank Sentral untuk melakukan pembelian,” pungkasnya.