periskop.id - Harga logam mulia Antam diprediksi akan mengalami fluktuasi tajam sepanjang pekan ini seiring dengan memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan masa transisi kepemimpinan Bank Sentral Amerika Serikat. Kombinasi antara ancaman penutupan Selat Hormuz dan perubahan nakhoda The Fed di akhir April 2026 menciptakan ketidakpastian pasar yang tinggi, yang secara tradisional justru menjadi katalis positif bagi aset aman atau safe haven seperti emas.
Secara teknis, Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan jika terjadi tekanan atau aksi ambil untung, emas Antam memiliki level dukungan (support) yang cukup kuat di angka Rp2.800.000 per gram dengan batas bawah kedua di Rp2.790.000 per gram. Namun, dengan melihat eskalasi di Selat Hormuz yang kian meruncing di penghujung April ini, peluang emas untuk menembus level resistansi baru jauh lebih terbuka lebar dibandingkan skenario penurunan harganya.
Ibrahim menjelaskan, pergerakan emas dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada dinamika indeks dolar yang diperkirakan bergerak di rentang 96,600 hingga 102,500. Selain itu, lonjakan harga minyak mentah akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi variabel penting yang dapat mendorong inflasi global, sehingga harga emas dunia berpotensi terkerek naik dan berdampak langsung pada harga jual logam mulia di dalam negeri.
"Untuk harga emas dunia kemarin ditutup di US$4.708 dolar per troy ons dan logam mulianya di level Rp2.845.000 per gram. Apabila harga emas naik, kemungkinan besar di US$4.779.000 per troy ons dan logam mulianya di Rp2.865.000 per gram,” ulas Ibrahim, Senin (27/4).
Namun jika harga emas terus menguat, resisten kedua yaitu di level US$4.832 dolar per troy ons dan logam mulianya bisa mencapai Rp2.980.000.
Ibrahim menilai bahwa faktor geopolitik menjadi pemicu paling krusial pekan ini, terutama setelah Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons atas tindakan militer Amerika Serikat. Ketegangan ini diperparah dengan langkah Presiden Trump yang merombak jajaran pimpinan militer untuk memastikan loyalitas penuh jika perundingan senjata gagal. Situasi "genderang perang" ini membuat pasar khawatir akan terjadinya gangguan suplai energi yang masif, yang pada akhirnya akan melambungkan permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai.
Selain faktor eksternal perang, perhatian pasar pekan ini tertuju pada pergantian Gubernur The Fed dari Jerome Powell ke Kevin Warsh. Ibrahim mencatat bahwa pergantian ini membawa spekulasi besar terhadap kebijakan suku bunga ke depan.
Jika inflasi melonjak akibat kenaikan harga minyak, Kevin Warsh diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, melainkan justru mempertahankannya atau bahkan menaikkannya demi menjaga independensi Bank Sentral dari intervensi pemerintah.
"Akhir bulan ini akan ada pergantian Gubernur Bank Sentral AS dari Powell ke Kevin Warsh. Jika harga minyak naik dan inflasi tinggi, kecil kemungkinan suku bunga turun; justru berpotensi tetap atau naik. Apalagi Warsh menekankan independensi Bank Sentral, sehingga tidak akan ada intervensi dari pemerintah,” lanjut Ibrahim.
Dari sisi permintaan fisik, harga emas pekan ini juga mendapat sokongan kuat dari negara-negara anggota BRICS yang terus memupuk cadangan logam mulia mereka. Langkah strategis bank sentral negara-negara BRICS untuk membeli emas sebagai cadangan devisa di tengah ancaman perang panjang menjadi fondasi kuat yang menahan harga emas dari koreksi yang terlalu dalam. Fenomena akumulasi ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap aset kertas mulai bergeser ke aset riil seperti logam mulia.
Tinggalkan Komentar
Komentar