periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum berencana untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, di tengah eskalasi geopolitik Timur Tengah dan meningkatnya harga minyak mentah dunia di level US$113 per barel.
Menurut Purbaya, saat ini kas negara masih memiliki cukup ruang untuk menahan gejolak harga energi global yang terus merangkak naik.
"Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk merubah subsidi BBM. Dalam pengertian naikin harga BBM. Karena kita lihat seperti apa kondisinya ke depan," ujar Purbaya kepada media, Jakarta, Senin (9/3).
Mantan Ketua LPS itu menjelaskan pemerintah tidak akan mengambil keputusan yang tergesa-gesa di tengah gejolak harga energi ini. Namun ia memastikan bahwa pihaknya akan terus memantau pergerakan harga lebih lanjut.
"Nanti kalau sebulan, sebulan semuanya berubah kita akan evaluasi," tuturnya.
Sebelumnya, Bendahara negara itu menyampaikan kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh level US$113 per barel belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi di Indonesia.
Purbaya menjelaskan, pemerintah tidak langsung menilai dampak kenaikan harga minyak hanya dari pergerakan harian. Menurutnya, perhitungan pemerintah biasanya menggunakan rata-rata harga minyak dalam periode tertentu.
"Kan baru satu hari. Hitungan kita kan status tahun penuh. Rata-rata setahun berapa? Kalau rata-rata setahun US$100 per barel berarti kan naik terus ke atas," kata Purbaya kepada media, Jakarta, Senin (9/3).
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak secara lebih dekat. Evaluasi tidak hanya dilakukan secara tahunan, tetapi juga dalam periode yang lebih pendek agar pemerintah dapat mengambil langkah lebih cepat jika diperlukan.
Tinggalkan Komentar
Komentar