periskop.id - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menekankan pentingnya langkah proaktif pemerintah menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Instruksi efisiensi energi ini tetap bergulir tegas di tengah kondisi ketahanan nasional berstatus aman.

"Tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif, dalam arti kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM," ujarnya saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna menjelang Idulfitri di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3).

Kepala negara mengingatkan jajarannya menghindari sikap terlena melihat stabilitas cadangan energi saat ini. Rasa syukur atas kondisi aman wajib berjalan beriringan dengan upaya nyata pengurangan pemakaian bahan bakar.

"Kita tidak bisa menganggap apapun terjadi kita aman, kita bersyukur kita aman, tapi kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita," tambahnya.

Presiden menjadikan negara Pakistan sebagai salah satu rujukan pengambilan kebijakan penghematan anggaran secara drastis. Negara tersebut sukses menerapkan sistem bekerja dari rumah (work from home) hingga 50%.

Kebijakan pembatasan mobilitas ini berhasil memangkas hari kerja pegawai menjadi hanya empat hari sepekan. Pemerintah setempat juga berani memotong gaji pejabat tinggi negara demi menyokong kelompok masyarakat rentan.

"Mereka bahkan mengurangi gaji untuk anggota kabinet, untuk anggota DPR dan semua penghematan gaji ini dikumpulkan untuk membantu kelompok yang paling rentan," jelasnya.

Langkah berani negara tersebut turut menyasar pembatasan ketat pemakaian kendaraan operasional dinas. Pengadaan belanja perabot mewah pemerintahan serta aktivitas pendidikan tatap muka langsung dihentikan sementara.

Mantan Menteri Pertahanan ini mendorong penerapan langkah serupa guna meningkatkan efisiensi kas keuangan negara. Pengetatan pengeluaran pemerintah menjadi kunci utama menjaga stabilitas ekonomi domestik.

"Saya kira kita juga harus mengupayakan kita melakukan penghematan, dengan demikian kita berharap kita akan selalu menjaga defisit kita tidak tambah, bahkan cita-cita saya adalah kalau bisa kita tidak punya defisit," ucapnya.

Presiden juga menyoroti urgensi peningkatan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lintas kementerian. Pengawasan ketat diperlukan guna memberantas praktik kebocoran, manipulasi administrasi, hingga rekayasa nilai faktur (under invoicing).

Meski menginstruksikan penghematan besar-besaran, perputaran roda ekonomi nasional dipastikan terus berjalan stabil. Kebijakan efisiensi tidak boleh menghambat laju pertumbuhan pasar domestik.

"Kalau tidak ekonomi kita juga nggak jalan nanti, tadi laporan Menko Perekonomian, Ketua DEN, Menteri Keuangan, ekonomi kita baik, ekonomi kita kuat," imbuhnya.