Periskop.id - Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memperkuat pengamanan dan pendampingan jamaah calon haji Indonesia dengan menempatkan petugas di sembilan titik rawan di kawasan Masjidil Haram. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi jamaah tersesat sekaligus menjaga kenyamanan selama beribadah di Tanah Suci.

Petugas Perlindungan Jamaah (Linjam) Seksi Khusus PPIH Arab Saudi Deka Ulfa Wiwik Irjayanti menyebut kehadiran personel, di titik-titik strategis terbukti efektif membantu jamaah kembali ke terminal maupun pemondokan dengan aman.

"Di titik-titik tertentu yang membingungkan jamaah calon haji tersebut, saat ini sudah ada petugas kita yang bersiaga di mana-mana untuk mendampingi dan membantu," ujar Deka di Makkah, Rabu (6/5).

Salah satu area yang kerap membuat jamaah bingung adalah jalur sekitar Terminal Syib Amir dan akses menuju fasilitas umum seperti toilet. Banyak jamaah menjadikan WC 3 sebagai acuan arah keluar, padahal jalur yang tepat menuju Terminal Syib Amir adalah melalui arah WC 9.

Kondisi tersebut dinilai berisiko, terutama bagi jamaah lansia yang lebih rentan panik saat terpisah dari rombongan. Kehadiran petugas di lapangan menjadi solusi cepat untuk membantu sekaligus menenangkan jamaah.

Selain memberikan arahan, petugas juga aktif mengedukasi jamaah terkait perlindungan diri di tengah suhu panas ekstrem di Makkah yang bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius pada musim haji.

"Untuk para jamaah calon haji diimbau selalu membawa payung, masker, topi, dan perlengkapan perlindungan diri. Kalau bisa, bawalah semprotan air agar kulit tetap lembap," kata Deka.

Jelang Puncak Haji
Menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), PPIH juga mengingatkan jamaah agar tidak memaksakan diri beribadah langsung di Masjidil Haram jika kondisi fisik tidak memungkinkan.

"Kalau misalkan dirasa cuacanya terlalu panas, lebih baik shalat di masjid hotel yang telah disediakan. Kita harus bersama-sama menjaga kesehatan agar nanti pada saat Armuzna badan tetap fit, sehat, dan bisa melaksanakan ibadah puncak haji dengan maksimal," ujar Deka.

Sejalan dengan itu, PPIH turut membatasi aktivitas tambahan jamaah, termasuk umrah sunah dan tur kota. Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daker Makkah Erti Herlina menegaskan pembatasan ini bertujuan melindungi kondisi fisik jamaah.

"Saat ini PPIH hanya mengizinkan pelaksanaan umrah sunah maksimal tiga kali sebelum masa Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Kebijakan ini murni ditujukan untuk melindungi kesehatan, keamanan, dan keselamatan para jamaah calon haji," ucap Erti.

Kegiatan tur ke luar Kota Makkah juga diminta ditunda sesuai arahan otoritas Arab Saudi, guna memastikan jamaah tidak kelelahan sebelum memasuki fase ibadah utama. Sebagai bentuk pengawasan, setiap kegiatan jamaah yang difasilitasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) wajib dilaporkan secara resmi kepada petugas. Data kegiatan harus mencakup tujuan, jumlah peserta, serta pergerakan jamaah.

"Hal ini sangat penting agar pergerakan jamaah calon haji terus termonitor dengan baik. Ketika jamaah calon haji berangkat dan pulang, jumlahnya harus sama. Pimpinan KBIHU harus dapat memastikan keselamatan, keamanan, dan kesehatan jamaah calon haji tetap terjaga," kata Erti.

Titik Siaga 
Berikut sembilan titik utama penempatan petugas di Masjidil Haram:

  • Terminal Syib Amir
  • Pintu keluar Marwah
  • Area sa’i
  • Area tawaf
  • Pintu Babusalam
  • Pertigaan Terminal Bab Ali–Syib Amir
  • Area WC 3 (arah Terminal Ajyad)
  • ATM Center Dar At-Tawhid
  • Arah Hotel Anjum
  • Terminal Jabal Ka’bah

Dengan penguatan pengawasan, pembatasan aktivitas, dan edukasi kesehatan, PPIH berharap seluruh jamaah Indonesia dapat menjalani ibadah haji dengan aman dan optimal, terutama saat memasuki fase krusial Armuzna yang membutuhkan kondisi fisik prima.