Periskop.id – Kerusuhan pecah di Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura, Papua, usai laga playoff promosi Liga 2 antara Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC, Jumat (8/5). Insiden ini menyebabkan puluhan kendaraan terbakar dan rusak, serta memicu penyelidikan dari aparat kepolisian dan Komnas HAM.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI Perwakilan Papua mencatat adanya kerugian material signifikan akibat insiden tersebut. Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey mengungkapkan temuan awal di lokasi kejadian.
"Kami menemukan kerugian material itu ada sebanyak 20 mobil, 10 kendaraan roda dua juga terjadi pengrusakan beberapa fasilitas di dalam Stadion Lukas Enembe," ujar Frits Ramandey di Sentani, Sabtu (9/5).
Komnas HAM juga tengah mempertimbangkan untuk meminta keterangan dari perangkat pertandingan, termasuk mengevaluasi penggunaan teknologi video assistant referee (VAR) sebagai kemungkinan pemicu kericuhan.
"Kemungkinan kami akan menilai penggunaan video assitant referee (VAR), apakah itu menjadi pemicu terjadinya kericuhan selain dari kekalahan tim Persipura Jayapura," ujarnya.
Kerusuhan diduga dipicu oleh kekecewaan suporter setelah Persipura Jayapura kalah tipis 0-1 dari Adhyaksa FC. Gol tunggal dalam pertandingan tersebut dicetak oleh Adilson Silva pada babak pertama, yang sekaligus memastikan Adhyaksa FC promosi ke Super League.
Polda Papua menyatakan masih mendalami penyebab pasti kerusuhan. Namun, indikasi awal menunjukkan emosi massa yang memuncak usai hasil pertandingan menjadi pemicu utama.
"Untuk memastikan penyebab kerusuhan hingga kini masih didalami namun penyebab awal diduga akibat kekecewaan setelah tim kebanggaan masyarakat di Tanah Papua Persipura kalah 0-1 dari Adyaksa FC," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito di Jayapura, Sabtu.
Data sementara dari kepolisian mengungkapkan dampak kerusuhan cukup besar. Sebanyak 67 kendaraan roda dua dan roda empat dilaporkan mengalami kerusakan, hilang, hingga dibakar. Selain itu, insiden ini juga menyebabkan korban luka.
"Selain itu itu dampak kekalahan Persipura juga menyebabkan 11 orang dilaporkan terluka termasuk 10 anggota Polri yang saat itu sedang melakukan pengamanan," kata Kombes Cahyo.
Salah satu korban luka adalah anggota Polres Jayapura Ipda Arjuna yang saat ini masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara Jayapura. "Satu anggota Polri seorang anggota yakni Ipda Arjuna yang bertugas di Polres Jayapura saat ini masih dirawat di RS Bhayangkara akibat luka yang dialaminya," tuturnya.
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan total kerugian material akibat kerusuhan tersebut. "Pendataan masih berlanjut untuk memastikan berapa besar kerugian akibat kerusakan tersebut," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukarnito.
Belum Ada Tersangka
Dalam penanganan kasus ini, aparat kepolisian telah mengamankan 14 orang di sekitar lokasi kejadian. Mereka saat ini masih menjalani pemeriksaan intensif untuk mengetahui keterlibatan masing-masing.
"Ke-14 orang yang diamankan masih diperiksa secara intensif oleh penyidik di Polres Jayapura di Doyo, Kabupaten Jayapura," kata Cahyo Sukarnito.
"Dari 14 orang yang diamankan itu, belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka," katanya.
Sebelumnya, Komnas HAM Papua juga sempat mengingatkan bahwa pertandingan tersebut memiliki potensi konflik, termasuk isu sensitif yang dapat memicu kerusuhan. "Persipura Jayapura tidak mempunyai sejarah rasis namun tim ini mempunyai sejarah rusuh yang terjadi pada 2013," imbuhnya.
Kerusuhan pascapertandingan bukan fenomena baru dalam sepak bola Indonesia. Data dari berbagai laporan, termasuk PSSI dan sejumlah studi keamanan stadion, menunjukkan bahwa faktor emosi suporter, keputusan wasit, hingga manajemen pertandingan kerap menjadi pemicu konflik.
Menurut laporan FIFA Stadium Safety and Security Regulations, pengelolaan massa dan komunikasi yang buruk menjadi salah satu penyebab utama kerusuhan di stadion (Sumber: FIFA.
Sementara itu, riset dari International Centre for Sport Security (ICSS) juga menekankan pentingnya mitigasi risiko dalam pertandingan berisiko tinggi, termasuk peningkatan pengamanan dan pendekatan persuasif kepada supporter.
Kerusuhan di Stadion Lukas Enembe kembali menjadi pengingat bahwa pengelolaan pertandingan sepak bola tidak hanya soal teknis di lapangan, tetapi juga pengendalian emosi massa dan sistem keamanan yang matang. Penyelidikan masih berjalan, sementara publik menanti kejelasan penyebab dan langkah pencegahan agar insiden serupa tidak terulang.
Tinggalkan Komentar
Komentar