periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive.

Pagi hari di tanggal 1 Syawal selalu dipenuhi dengan keriuhan yang membahagiakan. Suara takbir bersahutan, pelukan hangat saling memaafkan, aroma opor ayam dan ketupat yang menggugah selera, hingga keramaian sanak saudara berkumpul dengan baju seragam terbaiknya. Euforia kemenangan terasa begitu kental.

Namun, pernahkah kamu merasakan sebuah keanehan saat hari mulai beranjak sore?

Ketika keriuhan perlahan mereda, piring-piring kotor sudah menumpuk di dapur, dan tamu-tamu mulai pamit pulang. Di momen hening itulah, mungkin saat kamu sedang duduk bersantai di ruang tengah menemani istri beristirahat, atau sekadar rebahan di karpet sambil mengelus santai kucing kesayangan yang ikut kelelahan tiba-tiba ada perasaan kosong yang menyergap dada.

Alih-alih merasa seratus persen bahagia, ada hampa yang sulit dijelaskan. 

Sebenarnya, apa yang salah dengan diri kita? Kenapa di hari kemenangan ini, kita justru merasa kosong?

Post-Ramadan Blues: Penurunan Adrenalin yang Drastis

Sobat Halalive, jangan buru-buru menyalahkan dirimu sendiri. Merasa kosong atau sedih di Hari Raya adalah fenomena yang sangat manusiawi, sering disebut sebagai Post-Holiday Blues atau Post-Ramadan Blues.

Secara psikologis, selama 30 hari penuh, tubuh dan otak kita berada dalam mode "misi". Kita punya jadwal yang ketat: bangun sahur, menahan lapar dan emosi seharian, berburu takjil, hingga mengejar rakaat Tarawih. Otak kita memproduksi hormon adrenalin dan dopamin yang menjaga kita tetap fokus pada target ibadah.

Ketika Idul Fitri tiba, "misi" itu mendadak tamat. Garis finis sudah dilewati. Perubahan ritme dan rutinitas yang sangat drastis ini membuat tubuh mengalami penurunan adrenalin.

Kekosongan jadwal inilah yang diterjemahkan oleh otak sebagai rasa hampa dan mood yang tiba-tiba drop.

Tangisan Ruhani yang Merindukan "Tamu" Agung

Dari kacamata spiritual, rasa kosong ini adalah sinyal yang sangat indah. Para ulama terdahulu sering menangis tersedu-sedu di hari Idulfitri, bukan karena mereka tidak bahagia, melainkan karena mereka menyadari bahwa tamu agung bernama Ramadan telah benar-benar pergi.

Ruh kita seakan menyadari bahwa atmosfer kedekatan dengan Allah yang begitu pekat, di mana setan-setan dibelenggu dan pintu rahmat dibuka lebar-lebar, kini telah kembali ke mode "normal". 

Kekosongan yang kamu rasakan di sore hari Lebaran adalah bentuk kerinduan ruhani pada syahdunya bulan puasa. Hati kecil kita bertanya, "Apakah ibadahku sebulan kemarin diterima? Apakah aku akan bertemu Ramadan lagi tahun depan?"

Mengisi Kekosongan Tanpa Harus Memaksakan Diri

Lalu, bagaimana cara merangkul rasa hampa ini agar tidak berujung pada kesedihan berlarut?

Pertama, validasi perasaanmu. Izinkan dirimu merasa sedih karena ditinggal Ramadan. Tidak perlu memaksakan diri untuk terus-terusan terlihat heboh tertawa jika energimu memang sedang habis. 

Ambil waktu sejenak untuk menarik napas panjang dan beristirahat sejenak dari keriuhan sosial.

Kedua, jaga percikan apinya. Rasulullah SAW memberikan "obat penawar" rindu bagi mereka yang merasa kehilangan Ramadan, yaitu melalui anjuran Puasa Syawal selama 6 hari. 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ 

Artinya: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh." (HR. Muslim no. 1164).

Puasa Syawal menjadi semacam "tapering off" atau penyesuaian ritme spiritual agar ibadah kita tidak berhenti mendadak seperti mobil yang diinjak rem penuh.

Sobat Halalive, kekosongan di hari raya bukanlah tanda kamu gagal bersyukur. 

Itu adalah bukti bahwa Ramadan telah meninggalkan jejak yang teramat dalam di hatimu.

Kalau boleh tahu, apa momen paling random yang biasanya bikin Sobat Halalive tiba-tiba ngerasa sepi atau kosong pas hari Lebaran? Ceritakan di kolom komentar, ya, biar kita tahu kalau kita nggak sendirian ngerasain ini! 👇

Sumber Rujukan: 

  1. Hadits tentang keutamaan puasa 6 hari di bulan Syawal (HR. Muslim): https://sunnah.com/muslim:1164