periskop.id - id- Gejolak global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai mulai memengaruhi aktivitas perdagangan internasional, termasuk ekspor dan impor. Namun PT Mitra Saruta Indonesia menilai dampaknya terhadap sektor ekspor dalam negeri tidak terlalu signifikan.

‎Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian, mengatakan bahwa perusahaannya telah terbiasa menghadapi berbagai dinamika global. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di pasar ekspor, kondisi saat ini bukanlah hal baru.

‎"Sebenarnya kalau untuk ekspor, nanti saya jelaskan sebelumnya. Bahwa kita ini sudah lebih dari 30 tahun ekspor. ‎Jadi kondisi yang sekarang itu kita alami sebelum-sebelumnya. Jadi sudah terbiasa katakan seperti itu. Kenapa efek daripada situasi-situasi yang kita alami sekarang ini tidak berdampak begitu signifikan," kata Yanto dalam media briefing, Nganjuk Jawa Timur, dikutip Jumat (17/4). 

‎Ia menjelaskan, salah satu kunci ketahanan perusahaan terletak pada diversifikasi pasar ekspor. Selama ini, perusahaan tidak hanya bergantung pada pasar utama seperti Jepang dan Amerika Serikat, tetapi juga terus memperluas jangkauan ke berbagai negara lain.

‎"Karena market kita cukup diverse. Tadi yang saya sebutkan itu market untuk Jepang dan Amerika itu adalah market yang tanah. Jadi setelah lagi kita memang untuk tim marketing kita itu lebih agresif lagi untuk membuka pasar-pasar organik, pasar-pasar tradisional yang lebih menyeluruh," terang Yanto. 

‎Ia menyebut, beberapa pasar baru yang kini mulai digarap antara lain negara-negara di Afrika seperti Afrika Selatan, Tunisia, dan Mesir. Selain itu, pasar tradisional di Eropa seperti Portugal dan Spanyol juga masih menunjukkan kinerja yang stabil.

‎Menurut Yanto, strategi memperluas pasar menjadi langkah penting untuk meredam risiko akibat ketidakpastian global, termasuk gangguan rantai pasok dan penurunan permintaan di negara tertentu.

‎Ia juga mencontohkan pengalaman saat pandemi Covid-19, di mana kinerja ekspor sempat turun hingga 50 persen dalam beberapa bulan awal. Namun, pemulihan berlangsung cukup cepat, dengan tingkat penjualan kembali mencapai 90 persen dalam waktu kurang dari satu tahun.

‎"Jadi cuman sekitar 2-3 bulan market kita itu drop cukup lumayan 50 persen. Tapi setelah bulan keempat kita sudah menahannya 40-80 persen dan 90 persen itu tidak lebih dari 1 tahun," ungkapnya.

‎Yanto menambahkan, dalam situasi krisis, pasar cenderung mencari produk dengan harga lebih terjangkau sebagai alternatif. Hal ini justru membuka peluang bagi pelaku industri untuk tetap bertahan, baik di pasar domestik maupun ekspor.

‎"Jadi kalau threat atau risiko itu terjadi kecenderungan pasar akan mencari produk alternatif yang lebih murah untuk subsidi. Baik itu di domestic market maupun ekspor sifatnya kurang lebih sama," tutup Yanto.