Periskop.id — Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG, membeli telur ayam ras langsung dari peternak. Kebijakan ini diambil untuk membantu menaikkan harga telur di tingkat kandang yang masih berada di bawah titik impas peternak.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang menegaskan, SPPG tidak boleh lagi mengandalkan pemasok apabila telur dapat diserap langsung dari peternak setempat. Ia bahkan mengingatkan adanya sanksi bagi dapur MBG yang tidak mengikuti instruksi tersebut.

Advertisement

"Mulai hari ini, saya instruksikan seluruh SPPG, khususnya di Magetan, untuk membeli telur ayam langsung ke peternak. Kalau tidak, dapurnya daya suspend," ujar Nanik di Magetan, Senin (1/6). 

Instruksi itu disampaikan dalam kegiatan “Sinergi Ekonomi Kerakyatan, Strategi Pemberdayaan Peternak dan UMKM dalam Mendukung Makan Bergizi Gratis”. Menurut Nanik, pembelian langsung ke peternak perlu dilakukan karena harga telur di pasar naik, tetapi kenaikan tersebut belum dirasakan di tingkat peternakan.

"Hal ini karena di tingkat pasar harganya naik, tapi di tingkat peternakan tidak naik, sehingga peternak rugi," ucapnya. 

Saat ini, harga telur ayam ras di tingkat peternak Magetan berada di kisaran Rp22.000 per kilogram. Padahal, harga yang dibutuhkan peternak agar dapat kembali modal sekitar Rp24.000 per kilogram. Di sisi lain, harga telur di pasar telah berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp27.000 per kilogram.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak harga antara peternak dan konsumen. Peternak tidak menikmati kenaikan harga di pasar, sementara biaya produksi, terutama pakan, tetap menjadi beban utama. Karena itu, BGN mendorong SPPG sebagai dapur pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut menjadi penyerap langsung produksi telur lokal.

Nanik memberi tenggat waktu sekitar dua pekan kepada kepala SPPG, untuk membantu mengangkat harga telur ke level ekonomis melalui pembelian langsung dari peternak. Dengan langkah ini, peternak diharapkan tidak terus merugi setelah sekitar satu bulan terakhir menghadapi harga jual yang rendah.

Harga Telur Anjlok
Kebijakan di Magetan bukan respons pertama BGN terhadap keluhan peternak ayam petelur. Pada 8 Mei 2026, BGN juga menginstruksikan seluruh SPPG di Jawa Timur mengoptimalkan penggunaan telur dalam menu MBG untuk membantu penyerapan produksi peternak lokal. 

Saat itu, BGN menyebut langkah tersebut diambil setelah peternak ayam petelur di Magetan menggelar aksi damai akibat harga telur yang anjlok. "Kami telah menginstruksikan seluruh SPPG di Jawa Timur untuk mengoptimalkan penggunaan telur dalam menu MBG, sehingga dapat membantu meningkatkan penyerapan telur peternak dan menjaga stabilitas harga di tingkat produsen," ucap Nanik. 

BGN juga mencatat peternak di Magetan sebelumnya menyampaikan harga telur tingkat kandang berada di kisaran Rp22.000 hingga Rp22.800 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram. Peternak pun turut menyoroti tingginya harga pakan dan kondisi overproduksi yang membuat hasil telur sulit terserap pasar secara optimal. 

Dukungan serupa juga datang dari Kementerian Pertanian yang meminta BGN menambah frekuensi menu ayam dan telur dalam program MBG, agar serapan produk peternak meningkat. "Yang kedua juga meminta agar menu Makan Bergizi khususnya untuk daging ayam dan telur itu frekuensinya ditambah. Bukan dua kali per minggu, kita minta bahkan bila perlu setiap hari begitu untuk menambah serapan," tutur perwakilan Kementan. 

Kementan juga meminta harga pembelian mengacu pada harga acuan pemerintah karena harga telur dan ayam hidup di tingkat peternak turun di bawah ketentuan. 

Secara nasional, program MBG memang berpotensi menjadi pasar besar bagi produk peternakan. Badan Pangan Nasional sebelumnya memperkirakan kebutuhan telur ayam untuk program MBG pada 2025 sekitar 127 ribu ton, sementara kebutuhan daging ayam sekitar 70 ribu ton. 

Produksi tahunan telur ayam ras nasional sendiri, disebut mencapai 6,3 juta ton dan daging ayam ras sekitar 3,8 juta ton, sehingga pasokan dalam negeri dinilai cukup untuk mendukung program tersebut. 

Namun, besarnya kebutuhan program MBG tidak otomatis membantu peternak jika rantai pasoknya masih terlalu panjang. Karena itu, instruksi pembelian langsung dari peternak menjadi penting agar manfaat ekonomi program tidak berhenti di pemasok, tetapi juga sampai ke produsen lokal.

Dalam kunjungannya ke Magetan, Nanik juga menyaksikan penandatanganan kerja sama kepala SPPG dengan sejumlah pemasok UMKM, meninjau harga sayur di Pasar Plaosan, dan mengunjungi peternakan ayam petelur di wilayah Plaosan. Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Magetan Nanik Endang, jajaran Forkopimda Magetan, serta kepala organisasi perangkat daerah terkait.

Pemerintah Kabupaten Magetan sebelumnya juga mendorong skema serapan telur untuk membantu peternak rakyat. Pemkab menyebut kebutuhan telur untuk program SPPG dapat dipenuhi melalui asosiasi maupun koperasi peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan. Langkah itu diarahkan agar program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal. 

Dengan instruksi ini, BGN ingin memastikan dapur MBG menjalankan dua fungsi sekaligus. Pertama, menyediakan makanan bergizi bagi penerima manfaat. Kedua, menjadi instrumen ekonomi kerakyatan yang menyerap produk petani, peternak, dan UMKM lokal.

Jika diterapkan konsisten, pembelian telur langsung ke peternak dapat membantu memperbaiki harga di tingkat kandang, memotong rantai distribusi, serta menjaga keberlanjutan usaha peternak ayam petelur di daerah. Namun, pengawasan tetap dibutuhkan agar pembelian berjalan transparan, kualitas telur terjaga, dan pasokan untuk menu MBG tetap stabil.