Periskop.id - Dunia internasional kembali memanas setelah Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait hak teritorial Israel di Timur Tengah.
Melansir laporan CNN pada Minggu (22/2), pemerintah negara-negara Arab dan Muslim secara resmi melayangkan kecaman keras terhadap Huckabee yang menyebut bahwa Israel akan dibenarkan secara Alkitab jika mengambil alih wilayah luas di kawasan tersebut.
Komentar tersebut muncul dalam sesi wawancara Huckabee bersama komentator konservatif Amerika Serikat, Tucker Carlson. Dalam dialog tersebut, Carlson melontarkan pertanyaan mengenai apakah Israel memiliki hak atas suatu wilayah yang mencakup seluruh Timur Tengah berdasarkan interpretasi Alkitab.
“Tidak masalah jika mereka mengambil (Timur Tengah) semuanya,” jawab Huckabee dalam wawancara tersebut.
Meskipun demikian, ia segera menambahkan klarifikasi bahwa saat ini Israel tidak sedang berupaya melakukan ekspansi seluas itu, melainkan fokus untuk mempertahankan wilayah yang dikuasai saat ini guna melindungi warganya.
“Saya rasa Anda melewatkan sesuatu, karena mereka tidak meminta untuk kembali mengambil semua itu, tetapi mereka meminta setidaknya untuk mengambil wilayah yang sekarang mereka duduki, yang sekarang mereka tinggali, yang kini mereka miliki secara sah, dan itu adalah tempat perlindungan yang aman bagi mereka,” ucap Huckabee.
Pernyataan tersebut segera direspons dengan kecaman diplomatik yang dipimpin oleh Uni Emirat Arab (UEA). Pernyataan bersama tersebut didukung oleh kekuatan regional lainnya seperti Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan Qatar.
Mereka menilai komentar Huckabee sangat berbahaya dan bersifat provokatif karena mengabaikan kedaulatan negara lain.
Tidak hanya negara di kawasan Timur Tengah, gelombang protes juga datang dari negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Indonesia, Turki, dan Pakistan secara resmi menandatangani kecaman tersebut, menunjukkan adanya solidaritas lintas kawasan terhadap isu ini.
Pernyataan bersama negara-negara tersebut menegaskan bahwa komentar Huckabee merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Selain itu, sikap tersebut dianggap membahayakan peta jalan perdamaian yang sedang diupayakan oleh Presiden AS Donald Trump terkait Gaza, yang baru saja dipaparkan dalam pertemuan Board of Peace di Washington awal pekan lalu.
“Kelanjutan kebijakan ekspansionis Israel dan langkah-langkah yang melanggar hukum hanya akan memicu kekerasan dan konflik di kawasan serta merusak prospek perdamaian,” ungkap perwakilan negara-negara tersebut.
Mereka juga menyerukan agar pernyataan-pernyataan yang bersifat menghasut segera dihentikan demi stabilitas kawasan.
Pihak Palestina turut bereaksi keras atas narasi yang dibangun oleh Huckabee. Pada Sabtu (21/2), Kementerian Luar Negeri Palestina secara tegas menolak argumen yang disampaikan oleh duta besar AS tersebut.
Menteri Luar Negeri Palestina menyatakan bahwa klaim Huckabee bertentangan dengan realitas sejarah dan hukum.
“Bertentangan dengan fakta agama dan sejarah, hukum internasional, serta posisi yang disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump yang menolak aneksasi Tepi Barat,” ujar Menteri Luar Negeri Palestina.
Sikap Huckabee terhadap isu wilayah di Israel sebenarnya bukan hal baru. Tak lama setelah Donald Trump mengumumkan penunjukannya sebagai duta besar pada November 2024, Huckabee secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap aneksasi Tepi Barat oleh Israel.
Saat itu, dalam wawancara dengan Radio Angkatan Darat Israel, ia menekankan posisinya sebagai pelaksana kebijakan presiden namun tetap memberikan pujian terhadap rekam jejak Trump.
“Saya tidak akan membuat kebijakan, saya akan menjalankan kebijakan presiden. Tetapi (Trump) telah menunjukkan pada masa jabatan pertamanya bahwa tidak pernah ada presiden Amerika yang lebih membantu dalam mengamankan pemahaman mengenai kedaulatan Israel,” ungkap Huckabee kala itu.
Tinggalkan Komentar
Komentar