Periskop.id - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan, sedikitnya 277 anak di Lebanon tewas dan lebih dari 700 lainnya terluka, sejak Zionis Israel meluncurkan serangan ke negara tersebut pada 2 Maret.
Hal itu disampaikan oleh juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric, saat konferensi pers yang membahas perkembangan terkini Kawasan Timur Tengah di Markas PBB di New York, Senin (20/4). Melalui laporan tentang korban jiwa akibat serangan Israel di Lebanon, ia menjelaskan bahwa lebih dari 350.000 orang mengungsi, menurut otoritas Lebanon.
Dujarric menekankan sebagian besar dari mereka berjuang untuk bertahan hidup di pengungsian yang penuh sesak di tengah keterbatasan layanan dasar.
Ia juga menyebutkan situasi di lapangan masih rapuh, dan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) terus memantau operasi penembakan dan penghancuran yang dilakukan oleh tentara Israel di berbagai lokasi di Lebanon selatan. Menurutnya, intervensi kemanusiaan di Lebanon masih belum mencukupi jika "dibandingkan dengan kebutuhan" di lapangan.
Balasan Hizbullah
Sebelumnya, Pemimpin Hizbullah Naim Qassem, Sabtu (18/4) mengatakan, gencatan senjata dengan Israel harus berarti penghentian total agresi, seraya memperingatkan kelompok tersebut akan membalas pelanggaran Israel di Lebanon selatan.
"Tidak ada gencatan senjata dari satu pihak saja," kata Qassem dalam sebuah pernyataan.
Ia mengatakan, para pejuang Hizbullah akan menanggapi pelanggaran agresi dengan cara yang sesuai. Qassem menjelaskkan, lima langkah utama, yakni penghentian pertempuran secara permanen di seluruh Lebanon, penarikan penuh pasukan Israel, pembebasan tahanan, kembalinya warga yang mengungsi serta rekonstruksi dengan dukungan Arab dan internasional.
Hizbullah, kata dia, belum dikalahkan dan akan terus memperjuangkan pembebasan dan kemerdekaan Lebanon. Qassem juga mengatakan Hizbullah terbuka untuk memulai babak baru untuk bekerja sama dengan Pemerintah Lebanon.
Ia juga menekankan kesiapan untuk bekerja dengan lembaga-lembaga negara, guna memperkuat persatuan nasional dan menjaga kedaulatan.
Asal tahu saja, sejatinya gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada tengah malam antara Kamis (16/4) dan Jumat (17/4) waktu setempat, menyusul pengumuman sebelumnya oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Garis Kuning
Namun, Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu, pihaknya telah menyerang militan yang mendekati "garis kuning" (yellow line), yang menandai tepi utara dari "zona keamanan" yang ditetapkan Israel di Lebanon selatan, dalam satu hari terakhir.
Militer Israel juga mulai membangun lokasi militer baru pada Sabtu di dekat Desa Kfarchouba, di sektor timur area perbatasan Lebanon selatan, menurut sejumlah saksi mata dan seorang sumber keamanan Lebanon.
Sumber keamanan Lebanon mengatakan kepada Xinhua, sebuah unit militer Israel yang terdiri atas buldoser dan ekskavator serta dilindungi sebuah tank Merkava, sedang melakukan pekerjaan pemindahan tanah di sebuah bukit di barat daya Kfarchouba.
Aktivitas tersebut mencakup perataan tanah, penggalian, dan pembangunan tanggul tanah, yang mengindikasikan pendirian pos militer baru yang secara administratif terkait dengan Kfarchouba.
Saksi mata mengidentifikasi lokasi tersebut sebagai bukit "Rbaa al-Teben", sekitar 1,5 km dari garis demarkasi Lebanon-Israel dan merupakan area kebun zaitun serta kebun anggur.
Tinggalkan Komentar
Komentar